Kata-kata (2)

Bahkan sebaris kata-kata
Mampu memberikan seluas makna
Seperti pagi ini, kata-katamu menjelma
Matahari yang mengirimkan terang pertama
Kopi hangat untuk memulai perjalanan
Dan angin sepoi yang menenangkan langkah
Bahkan sebaris kata-kata
Mampu mencipta seulas senyum tiba-tiba
Yang dapat terjaga hingga senja

Kata-Kata (1)

Ada kata-kata
Yang tidak perlu diucap atau ditulis
Ia ada namun tak perlu diungkap
Di dalam pertemuan hembusan nafas kita
Juga di rintik hujan yang turun satu-satu

Ada kata-kata
Yang kita tau ia ada
Tidak perlu diucap, ataupun ditulis
Karena setiap hari, kita sudah menyesapnya
Dengan rasa yang tak bisa terbantahkan

Menyeberangi Takdir

Tidak bisakah kita menyeberangi garis takdir?
Mengabaikan semua nama yang diberikan oleh dunia ini
Untuk mencari kebahagiaan yang tak mampu diraih
Mungkinkah di suatu dunia parallel yang lain disana
Pertemuan kita dapat memiliki akhir cerita berbeda?

Nyatanya kita masih tenggelam pada berbagai kemungkinan
Untuk apa membahasnya? Hanya menghasilkan keputusasaan
Dan kita selalu kembali pada pertanyaan yang sama
Mengapa kita harus bertemu dan terlahir berbeda

Kini kita hanya mengelabui diri bermain dengan waktu
Mengulangi hari yang sama lalu membohongi nasib kita
Karena kita juga tidak berani bertaruh pada metidakpastian
Hanya terus menyalahkan impian yang hampa dan sia-sia

Mampukah kita menyeberangi garis takdir
Menghapus semua nama yang disematkan oleh dunia ini
Menggenggam impian yang terpenjara lalu hidup bahagia
Atau cerita ini hanya akan seperti garis paralel dan kita
Hanya saling tatap dari sisi yang berbeda

Mampukah kita menyeberangi garis takdir?
Karena cerita yang tidak pernah dimulai hanya akan
Meninggalkan jejak tanpa menuju tempat yang pasti
Namun jika suara kita yang lemah masih tetap tidak dapat mengetuk pintu takdir
Setidaknya biarkan bayanganmu dan aku menyatu pada senja terakhir kita

– – – –
*Terinspirasi dan menyadur kata-kata dari lirik lagu Heikousen – Sayuri dengan penyesuaian. Silakan cari di google liriknya buat yang ingin tau ;D

Pada Suatu Jarak

Pada suatu titik, kita berhenti untuk mengukur jarak dengan hati-hati
Agar tidak ada yang pergi, namun juga tidak terlalu intim
Ketika nanti merasa kata-kata sudah terlalu lama pergi
Biarkan ia berkelana sampai tiba waktunya lagi
Ia akan datang sekadarnya untuk menyapa lalu sepi
Karena tirai sudah ditarik kembali, layar sudah berganti
Saatnya pergi untuk memerankan cerita yang lain
Hanya syair malam yang masih kukirim mengetuk langit
Agar melindungimu dalam pelukan sayap-sayap putih
Menjaga langkahmu yang sendiri

Pergi

Kemana perginya awan?
Yang sempat teduh menaungi langit
Sedari dulu bersama-sama
Memayungi dari matahari yang terik
Kemana perginya gerimis?
Yang turun satu-satu bagaikan musik
Sedari dulu ia selalu
Mengusap jejak langkah dan debu-debu sisa masa lalu
Kemana perginya daun yang jatuh?
Kini ia pergi begitu saja
dengan angin, meninggalkan dahan
yang erat menggengamnya sejak lama
Kemana perginya dirimu?
Hilang tanpa pamit ditelan senja
Sesaat sebelum gelap datang
dan tak pernah kembali