Lunar

Malam terlarut dalam keheningannya pada waktu sepertiga
Jarum detik yang berdetak di kamar terdengar sangat jelas
Di luar, wajahmu masih terpancar dari cahaya bulan
Betapa aku tidak mampu melupakan pertemuan kita

Jutaan mawar yang tiba-tiba saja bermekaran
Menyanyikan serenade pada senja yang kehilangan arah
Takdir tidak akan pernah mempermainkan cerita yang dirancang
Ketika aku menghampiri dan melihat masa depan di matamu

Bagaikan purnama yang menyinari malam yang larut dalam diam
Cahayamu yang tenang  terasa begitu sama dan nyaman

Maukah kau membawaku kedalam pusaran waktu mu
Untuk menemani setiap detik hembusan nafas yang tersisa
Kita lengkapi bersama setiap lembar pada halaman buku yang tersisa
Aku tak perlu alasan-alasan klise untuk memilihmu
Karena kita pun tidak pernah mengerti cara kerja takdir
Yang ku yakin adalah kita akan terus bersama di bawah cahaya bulan

Advertisements

Tentang Rumah yang Ditinggal Pulang

Rumah-rumah yang ditinggalkan penghuninya
Saling bercerita di sela-sela kesepian
Penghuninya pergi ke rumah yang lain
Dan mereka menyebut itu sebagai “pulang”
Padahal, selama ini mereka selalu menyebut pulang
Jika mereka kembali ke rumah-rumah yang ditinggalkan itu
Rumah-rumah yang ditinggalkan penghuninya
Saling bersedih dan tak  mengerti
Tentang dimana tempat yang paling hangat dan nyaman
Tentang dimana tempat yang lebih diianggap spesial
Tentang kemana tempat kembali yang benar-benar dianggap pulang
Lalu tersebutlah rumah yang paling tua berkata kepada mereka
Yang sudah menghuni tanah itu sejak sebelum digusur perumahan baru
“Pada akhirnya, tempat kembali yang paling hangat
Adalah kembali ke pelukan tangan-tangan Ibu mereka
Dan kesanalah, kali ini mereka pulang”

Tanah

Tanah adalah tangan ibu yang lembut dan dingin
Senantiasa mendekap erat setiap anaknya, saat
mereka pulang kembali dalam pelukannya
Tanah adalah tangan Ibu yang ikhlas menyimpan air mata
Yang jatuh ketika pelayat menaburkan doa dan melafalkan kenangan
Sampai ketika bunga-bunga dan tanah telah mengering
Ia akan bertanya, “Sudahkah kau hapus air matamu yang dulu?”
Dari temaram bola mata yang tak bercahaya pada hari itu
Katakanlah pada tangan ibu yang telah memeluk dirinya
Yang lebih dulu pergi dan tak bisa lagi menjagamu
Bahwa dirimu kini adalah
Bunga yang megah dan dapat berdiri di tanah sendiri

Ada yang Belum Selesai

Ada yang belum selesai
Di antara tanda petik, tanda tanya dan koma
Belum sempat kita membubuhkan tanda titik yang jelas
Terhalang oleh spasi yang tak mampu menyembunyikan rindu kita
Yang menahannya untuk menyelesaikan kata-kata
Tertinggal di paragraf masa lalu yang tersembunyi dari cerita

Kata-kata (3)

Kata-katamu ketika itu, menjelma rantai yang membekas tanya
Seumpama jawaban yang menggantung di dalam angin
Kau menunggu akan ke arah mana angin membawanya pergi
Menaruhnya di antara ya dan tidak, lalu mengembalikannya kepadaku
Meskipun telah kau sebut, bahwa kau akan baik-baik saja
Tak mengapa meski kini kita belum tau kemana arah angin ini
Bukankah kita tak pernah mengawali semua ini
Dengan permintaan maupun tuntutan
Begitupun sekarang, terserah baiknya saja

Kata-katamu ketika itu, menjelma dingin yang memeluk luka
Betapa sulit, untuk menahan hujan deras di luar jendela itu