Menyeberangi Takdir

Tidak bisakah kita menyeberangi garis takdir?
Mengabaikan semua nama yang diberikan oleh dunia ini
Untuk mencari kebahagiaan yang tak mampu diraih
Mungkinkah di suatu dunia parallel yang lain disana
Pertemuan kita dapat memiliki akhir cerita berbeda?

Nyatanya kita masih tenggelam pada berbagai kemungkinan
Untuk apa membahasnya? Hanya menghasilkan keputusasaan
Dan kita selalu kembali pada pertanyaan yang sama
Mengapa kita harus bertemu dan terlahir berbeda

Kini kita hanya mengelabui diri bermain dengan waktu
Mengulangi hari yang sama lalu membohongi nasib kita
Karena kita juga tidak berani bertaruh pada metidakpastian
Hanya terus menyalahkan impian yang hampa dan sia-sia

Mampukah kita menyeberangi garis takdir
Menghapus semua nama yang disematkan oleh dunia ini
Menggenggam impian yang terpenjara lalu hidup bahagia
Atau cerita ini hanya akan seperti garis paralel dan kita
Hanya saling tatap dari sisi yang berbeda

Mampukah kita menyeberangi garis takdir?
Karena cerita yang tidak pernah dimulai hanya akan
Meninggalkan jejak tanpa menuju tempat yang pasti
Namun jika suara kita yang lemah masih tetap tidak dapat mengetuk pintu takdir
Setidaknya biarkan bayanganmu dan aku menyatu pada senja terakhir kita

– – – –
*Terinspirasi dan menyadur kata-kata dari lirik lagu Heikousen – Sayuri dengan penyesuaian. Silakan cari di google liriknya buat yang ingin tau ;D

Sekilas Cerita Tentang Kerja

Jpeg

Jpeg

Dalam ruangan kecil itu ditemani sepi. Hanya ada satu meja bundar dan beberapa kursi sebagai tempatnya bekerja bersama yang lain. Gelas kaca yang hampir kosong di sebelah kirinya. Setumpuk kertas dengan klip yang tersusun rapi di sebelah kanan. Pandangannya lekat menatap layar laptop yang terus menyala. Pada tombol-tombol itu, jarinya lihai menari mengetikkan angka dan bermacam perintah. Baris dan kolom saling bercengkrama bersama angka dan kata yang mengisinya. Sesekali ia selipkan warna di dalamnya, untuk memperindah juga sebagai penanda dan batas yang jelas.

Ia periksa semua dokumen tebal di sisi kanannya dengan hati-hati. Membacanya sekilas namun awas terhadap angka-angka yang penting. Satu per satu ia masukkan kata dan angka ke dalam tabel yang sudah disiapkan sebelumnya. Memeriksa angka, tanggal, dan juga otorisasi dengan cermat. Demi mendapatkan sebuah keyakinan yang cukup dan layak diterima.

Lain waktu ia hanya fokus kepada angka-angka penyusun sebuah nama. Lalu menghitung ulang semuanya untuk mendapatkan hasil yang tepat. Ada kalanya ia berkutat dengan perubahan nilai kurs. Pernah juga ia memeriksa penghitungan umur suatu dari suatu transaksi. Atau sesekali menanyakan nature dari suatu nama untuk memahami bagaimana mereka mengelompokkannya.

Kali ini ia memutuskan untuk keluar ruangan bersama dengan timnya. Melewati koridor menuju sebuah ruangan yang lain. Menghampiri beberapa orang yang baru ia kenal, belum ia kenal, atau yang tak perlu ia kenal. Ada berkas yang harus diminta. Dua hari lalu, mereka menjanjikan untuk tersedia hari ini. Setelah sebelumnya mereka berdebat karena pencatatannya belum dirapikan. Dokumen didapatkan, kita kembali ke ruangan. Kembali menari di atas tombol segi empat hitam, mengetikkan angka, huruf dan perintah.

Matahari tenggelam. Dirinya yang belum memiliki posisi apa-apa tengah berharap-harap cemas menunggu keputusan seniornya. Ada data yang tersedia, tapi waktu telah berubah gelap. Haruskah ia melanjutkannya sampai tengah malam?

“Rasanya kita belum terlalu diburu waktu. Kita lanjutkan besok saja.”

Dengan senyum yang tertahan, segera ia berkemas pulang. Setidaknya hari ini, tidak perlu sampai larut malam, pikirnya lega.

***

Epilog:

Dari balik kaca ruangannya, ia menatap ke luar. Ke arah kaca jendela yang basah oleh rintik-rintik dan tampias hujan. Jika dulu ia memandangnya dari jendela rumah atau kosan, tentu ia akan menikmati saat-saat itu sendirian. Melamunkan banyak hal, mendengarkan orkestra hujan. Atau jika sedang bersemangat, jemarinya akan menari merangkai sepotong bait. Namun kali ini, jarinya hanya bisa menari memasukkan kata, angka, dan perintah.

Tapi kali ini tidak. Di sela waktu yang sedang luang ini, ia putuskan untuk menarikan jarinya kembali membentuk sepotong bait. Sebab ia tau, hanya itu satu-satunya cara agar jiwanya tidak mati. Agar jiwanya tetap terbebas di samudera puisi.

Sebuah Perang Ketamakan

Kemarin adalah saat paling mendebarkan tiap semesternya yang sudah terulang 5 kali (buat ku sih 5 kali). Dimana kemarin adalah kali ke-6 nya. Semua orang menyebutnya dengan istilah War (perang). Secara tidak langsung, memang kami di saat itu saling “berperang” adu kecepatan demi memperebutkan apa yang kami inginkan. Nama perang itu adalah SIAK-War.

Alasannya pun egois. Meski mungkin banyak yang menyangkal bahwa perang ini hanya agar mereka mendapatkan kelas yang sama dengan teman-teman mereka, tapi tetap saja itu egois. Bahkan aku yang ikut perang pun mengakui bahwa alasan ku selama ini memang untuk sesuatu hal yang egois. Ya mau bagaimana lagi? Ketika ada kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik tentunya kita akan berjuang bagaimanapun caranya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik itu bukan? Apalagi untuk urusan nilai.

Oh, tidak. Jangan katakan kalau itu “hanya sebuah nilai” jika pada kenyataannya hal itulah yang akan dibangga-banggakan di garis finish nanti. Toh hal itu masih tetap dilirik saat pengumpulan berkas riwayat hidup nanti. Ada sejuta alasan yang akan saling beradu jika kita membahasnya sekarang. Walau aku juga setuju bahwa itu masuk seven deadly sins, tepatnya Greed. Alasannya terserah tafsiran pembaca.

Karena pada dasarnya memang kami semua tamak, maka kami tidak akan terima apapun alasan yang akan menghambat perang kami. Tak terkecuali sebuah kesalahan kecil pada sistem yang membuat kami tidak bisa masuk ke medan perang. Mungkin memang tidak mengapa jika hal yang terjadi adalah sama rasa sama rata – meski kami lebih suka paham kapitalis – yaitu ketika semua tidak bisa ikut berperang. Fair! Tapi nyatanya tidak, hanya satu golongan tertentu yang tidak bisa masuk sementara ada golongan yang lain bisa, dan ini hanya terjadi di satu jurusan. Unfair! Sebut saja golongan yang tidak bisa adalah Reguler, sementara golongan yang bisa adalah Paralel.

Lalu kemudian mulai muncul keluhan. Awalnya sih Nampak biasa saja. Toh setiap tahun juga kerap kali muncul masalah. Lagipula golongan yang bisa dan tidak bisa tersebut bukan karena memang dibeda-bedakan. Hanya saja input pada sistemnya yang berbeda. Tapi rupanya kali ini mulai datang awan hitam pada media sosial burung biru yang hobi berkicau tersebut.

Berbagai komentar dilayangkan pada sebuah account yang dirasa bertanggung jawab dalam hal ini. Bukan hanya bertanya, tapi keluhan dan tuntutan. Ratapan dilematis yang menuntut keadilan. Macam langit baru runtuh tepat di atas kepalanya saja.

Tuntutannya adalah untuk me-reset semuanya sehingga dapat berperang ulang dari 0 lagi. Mereka merasa dirugikan dengan kesalahan pada sistem sehingga mereka tidak dapat berperang dengan adil. Kursi-kursi yang akan mereka perebutkan telah mulai banyak diduduki oleh golongan yang berhasil. Mereka takut hanya akan tersisa kursi sisa pada kelas yang tidak mereka inginkan. Sekali lagi, alasannya adalah nilai dari sang dosen.

Tuntutan berbuah kepada perselisihan. Selalu ada dua sisi dalam setiap keadaan. Ada yang menuntut diulang, ada yang tidak, dengan dalih itu justru akan merugikan pihak yang sudah berhasil. Bahkan ada kata-kata semacam “mungkin ini memang rezeki kami”. Yah, tidak salah juga sih. Itu kan kebetulan yang menguntungkan mereka. Lalu siapa yang benar? Sama saja. Toh keduanya sama-sama tamak dan tidak ingin rugi.

Perselisihan itu bahkan tampaknya menyebar melalui media sosial lain berwarna hijau yang memiliki stiker-stiker lucu. Bedanya, ini hanya terjadi di dalam grup angkatan saja. Aku tidak tau persisnya bagaimana, tapi nampaknya ini ramai di beberapa angkatan di bawahku (Ya ampun, gw udah angkatan tua!!! Aarrrgghh…).

Memang sih tidak sampai besar, tapi rusuh sesaat ini menandakan bahwa kita mudah sekali ya untuk marah, menangis, dan merajuk ketika disentil sedikit. Yup, disinilah poinnya. Adalah wajar memang ketika kita merasa mengalami ketidak adilan lalu kita berteriak mengadu. Tapi apakah lantas ketika kita berteriak mengadu tersebut semua akan selesai? Yah, mungkin pikiran ini dinilai terlalu apatis, apalagi kalau dihubungkan dengan hal lain. Tapi dalam hal ini, dalam sebuah perang yang hanya memperebutkan kelas ini, tampaknya itu relevan.

Ada cara-cara yang lebih bijak. Misalnya menunggu sambil membuat perjanjian dengan teman-teman untuk saling berkabar jika sudah bisa atau ketika ada informasi lain. Tidak perlu merajuk dan meratapi kuota kelas yang kita inginkan ternyata sudah penuh. Apalagi mengingat semester lalu yang rupanya nama dosen diacak beberapa kali setelah kita sudah memilih kelas tertentu. Karena itulah saya merasa seharusnya kejadian semalam tidak seheboh itu.

Kalau ditanya apa yang saya lakukan, ya memang saya juga mengumpat di grup khusus teman-teman dekat saya yang selalu janjian “perang bersama. Namun setelah puluhan chat lain yang menyayangkan kelas yang penuh, saya lalu mengatakan kepada mereka, “bikin rencana baru yuk, beberapa kelas udah penuh, nih.” Lebih baik bukan? Bahkan kemudian ketika secara mendadak kami dinyatakan sudah bisa masuk, kami langsung memakai rencana baru tersebut. Tak perlu ada kata yang sia-sia.

Sebenarnya saya juga mengamini pendapat yang menyatakan bahwa sistem kami masih banyak kekurangan. Masih banyak yang belum siap dan semua tidak diinformasikan dengan baik. Buktinya saja pemberitahuan bahwa golongan Reguler sudah bisa masuk tidak ada sama sekali. Saya tau karena ada teman saya yang baik dan dermawan yang langsung menyebarkan informasi tersebut kepada kami. Saya yakin dia pun tau karena mencoba lagi atau dari orang lain. Bukan dari sumber resmi. Jadi memang tidak ada informasi apapun tentang kapan kami bisa masuk. Tiba-tiba saja mulai berhamburan pesan berantai yang mengatakan bahwa kami sudah bisa masuk.

Segera setelah semua golongan mendapat haknya – meski tidak jadi diulang – semua pihak langsung diam. Kembali pada kedamaian malam yang sempat terusik oleh kepentingan masing-masing. Rasanya lucu ketika mengingat sore tadi suasana macam kebakaran melanda seluruh dunia, namun malam ini kembali pada keheningan yang syahdu. Manusia, atau mungkin kami orang Indonesia, mudah sekali reaktif terhadap sesuatu ya. Memang sebuah gambaran utuh media sosial masa kini.

Baiklah, saya ingin kembali kepada malam saya yang syahdu. Yang mulai mengatupkan matanya sembari melingkupi dunia dengan keheningan yang damai. Selamat malam!

Regol Semester 7

Tak terasa ya, waktu berjalan begitu cepat. Bahkan terasa lebih cepat dari biasanya. Meski memang itu hanyalah sebuah relativitas waktu yang digabungkan dengan abstraknya perasaan. Namun tentu kita tidak dapat begitu saja mengabaikan perasaan kehilangan bukan? Tepatnya kehilangan waktu – meski tidak secara harfiah lenyap – yang berubah menjadi sebuah kenangan, lalu kemudian abadi dalam ingatan. Lalu setelah kita mengubahnya menjadi kenangan, kita mulai membingkainya secara rapi seperti album foto.

Tentu ada banyak peristiwa yang menyenangkan untuk dikenang. Apalagi jika kita melaluinya bersama orang yang kita sayangi seperti keluarga, teman, atau pasangan. Hmm…hm… Tidak melulu peristiwa yang memang menyenangkan, peristiwa yang kurang menyenangkan pun jika dilalui bersama pasti tetap akan menarik untuk dikenang.

Kemarin aku baru saja mengalami suatu peristiwa berulang setiap semester yang pasti akan menjadi kenangan yang lucu. Peristiwa maha penting tiap semester yang akan menentukan perjalanan kuliah selama 6 bulan kedepan. Yup, registrasi akademik online atau biasa disingkat regol. Intinya disini kami diminta untuk memilih mata kuliah apa saja yang akan kami ambil selama satu semester (4 bulan) kedepan. Tapi bukan hanya memilih mata kuliah, melainkan juga memilih kelas untuk setiap mata kuliah tersebut. Sudah bukan hal baru bagi mahasiswa untuk janjian sekelas bersama teman-teman dekatnya. Tak terkecuali aku. Hal itulah yang kemarin aku lakukan bersama teman-temanku.

Karena online, maka kami bisa melakukannya di tempat masing-masing. Lalu untuk melakukan diskusi memilih kelas, kami lakukan di aplikasi chatting whatsapp. Seperti yang sebelum-sebelumnya terjadi, pasti heboh. Puluhan chat silih berganti dan saling tindih dalam sebuah grup. Isinya memaparkan mata kuliah yang diambil dan siapa saja yang mau ikut mengambil (untuk mata kuliah pilihan).

Yang menjadikan hal ini ramai sebenarnya adalah karena ketika masa regol ini, semua mahasiswa berlomba-lomba untuk mengincar kelas tertentu. Yang diprediksi akan diisi oleh dosen yang baik. Beberapa prediksi berhasil, sisanya meleset. Tapi selama masih ada kemungkinan ya pasti akan dilakukan. Lebih lengkapnya lihat saja tulisan ini. Hal itu tak terkecuali bagi aku dan teman-temanku.

Biasanya, menjelang detik-detik pertama regol semua akan heboh. Lalu pada saat sudah bisa regol, grup akan diam sesaat karena butuh waktu sekitar satu menit untuk mengisi Isian Rencana Studi secara online. Setelah selesai maka langsung klik save dan akan muncul hasilnya. Yaitu apakah kita bisa dapat kelas yang kita klik atau tidak. Loh, kan Cuma satu menit? Kok sudah penuh? Ya karena dalam satu menit tersebut ada ratusan mahasiswa yang online dan meng-klik kelas yang sama dengan selisih 1 milisecond.

Lepas satu atau dua menit, maka anggota grup akan langsung mengabarkan hasil mereka. Berhasil atau tidak. Kalau yang tidak hampir semua maka kami akan pindah ke kelas lain bersama-sama. Kalau ternyata kurang dari setengah, formasi kami bagi dua. Hanya yang tidak dapat kelas yang pindah, namun tetap bersama. Kalau hanya 1 orang yang gagal? Pilihannya antara “toleransi” atau “derita lu”. Yah, tapi semua maklum.

Rentang waktunya hanya kurang dari lima menit, namun rasanya detak jantung memacu lima kali lipat dari biasanya. Kira-kira selama satu hari itu dan beberapa hari setelahnya, grup pasti akan rame dan dipenuhi pembahasan hal yang sama: “nama dosennya sudah muncul belum?”

Kali ini aku tidak mau membahas tentang proses itu, tapi pada apa yang lebih abstrak lagi. Ya, soal kenangan. Rasanya saat-saat seperti tadi adalah saat yang paling akan dikenang dari kehidupan kuliahku. Eh, enggak deng. Itu kedua yang paling dikenang. Yang pertama tentu tentang BO Economica tercinta~. Hehehe

Memasuki semester ketujuh, artinya sudah 6 kali aku dan teman-temanku melakukan ini. Artinya kemungkinan besar aku hanya akan melakukan hal ini satu kali lagi. Itupun hanya untuk klik skripsi dan satu mata kuliah lagi. Yang tentunya tidak akan seheboh sekarang atau semester sebelumnya. Padahal rasanya dulu aku sangat kesal dengan Perang Ketamakan ini karena seolah tidak bisa hidup kalau tidak ikut bersaing. Ternyata bikin kangen juga ya. Hihihi

Yah, waktu rupanya terasa berjalan cepat kalau kita mengingat masa lalu. Padahal sejatinya waktu bergerak konstan, senada dengan pergantian siang dan malam serta semilir angin yang berhembus di antaranya. Memang manusia itu pandai sekali ya memberi letupan-letupan emosi pada kesehariannya yang sejatinya bergerak konstan ini. Bahkan untuk hal-hal rutin – tapi penting – seperti regol tadi. Hahaha.