Jika Dirimu Terbangun

Jika malam sudah turun pada jalan-jalan yang sepi
Tapi masih tidak kau temui aku di sampingmu
Kau sudah tau mengapa
Lafalkan saja namaku dalam tengadahmu
Lalu kirimkan bersama secarik diksi tulisanmu kepadaku
Yang dirajut oleh benang-benang kisah cinta kita
Supaya ia menjelma segelas kopi panas yang menemani malamku

Jika malam sudah turun pada lampu-lampu yang mulai mati
Tapi masih belum kujumpai wajahmu yang pulas tertidur
Kita sudah tau mengapa
Percayalah, ku lafalkan namamu dalam tiap ketuk laptop
Lalu ketika secarik diksi tulisanmu sampai di layar ponselku
Akan kuaduk mereka ke dalam cangkir kopi panas itu
Hingga dirimu menjelma kehangatan yang menyelimuti malamku

Advertisements

Tidak ada Perpisahan Untuk Kita

Nama
Akan silih berganti datang dan pergi
Karena pertemuan miliki masanya masing-masing
Lalu kenangan, hanya serupa sebaris cerita singkat
Untuk dikisahkan kepada yang datang selanjutnya
Begitu seterusnya
Tapi dalam sebuah awal mula
Kalianlah kejaiban yang menjulurkan tangan
Menarikku dalam pusaran yang bahkan kita
Tidak tau mengapa bisa bertahan
Yang meskipun telah habis masa pertemuan itu
Kita membuatnya seolah perpisahan tidak pernah datang

Pergi

Kemana perginya awan?
Yang sempat teduh menaungi langit
Sedari dulu bersama-sama
Memayungi dari matahari yang terik
Kemana perginya gerimis?
Yang turun satu-satu bagaikan musik
Sedari dulu ia selalu
Mengusap jejak langkah dan debu-debu sisa masa lalu
Kemana perginya daun yang jatuh?
Kini ia pergi begitu saja
dengan angin, meninggalkan dahan
yang erat menggengamnya sejak lama
Kemana perginya dirimu?
Hilang tanpa pamit ditelan senja
Sesaat sebelum gelap datang
dan tak pernah kembali

Overwork

Tak Tuk Tak Tuk Tak Tuk
Jemari bercumbu dengan tombol-tombol hitam
Menekan-nekan keras, melampiaskan
Tak Tuk Tak Tuk Tak Tuk
Ctrl – Shift – Alt – Up – Down – Enter
Layar naik, turun, pindah, SUM, SUMIF
Tak Tuk Tak Tuk…Triinngg
Email masuk, data diberikan, sangat terlambat!
Masih bertumpuk kertas perlu dilihat dengan cermat
Tak Tuk Tak Tuk Tsiiiinnnggg
Hening, klien sudah beberapa jam lalu pulang
Hanya jam dinding yang masih bertugas
Tak Tuk Tak Tuk Tak Tuk Pletak!
Tuk Tak Tuk Tak Tuk
Zzzzziinnngg… Bzzt click
Layar sudah hitam, lipat semua, masukkan ke Tas
Sebelum layar dunia kita yang menjadi hitam

Sepuluh Tahun Lagi

“Akhir musim panas bersamamu
Mimpi masa depan, harapan yang besar, tak akan kulupakan
Aku percaya kita akan bertemu kembali
Pada bulan Agustus, sepuluh tahun lagi”
Secret Base ~ Kimi Ga Kureta Mono – Kayano Ai, Tomatsu Haruka & Hayami Saori
OST Ano Hana

Pada setiap nada-nada mungil yang berlari-lari kecil di kepalaku
Ada kenangan yang hadir, tentang andai-andai kita waktu itu
Meski tak ada musim panas di tanah ini
Meskipun saat itu juga bukan bulan Agustus
Rasanya ingin kita mengikat janji seperti pada lagu itu

Esok pagi, mungkin langit tetap sama, tapi kita tidak
Ada keseharian yang akan sulit untuk bersinggungan
Jejak kaki akan menyebar ke berbagai ruang
Tidak ada lagi senandung bersama
Tidak ada lagi pembicaraan di rumah hijau kita
Tidak lagi ada kita, pada kebersamaan yang biasanya

Sepuluh tahun lagi
Masihkah tersemat kata “kita”?
Pada aku, kamu, dan semuanya
Ayo kita ciptakan janji yang akan menembus ruang dan waktu
Sepuluh tahun lagi, masih akan tersemat kata “kita”
Yang saling bercerita tentang masa-masa sekarang

 

 

*Author’s Note:
Oke, jadi maafkan karena saya lagi galau pas denger lagu ini. Dulu waktu menjelang kelulusan, saya dan teman-teman KIR mendengarkan lagu ini dan mencari arti liriknya. Trus ternyata pas banget, gimana ya nanti sepuluh tahun lagi, apakah masih akan sedekat ini atau tidak. Kalau nanti ada reuni sepuluh tahun lagi, kami sudah jadi apa. Pokoknya mellow gitu deh. Oh iya, jadi ini settingnya pas lulus-lulusan SMA, which means 4 tahun yg lalu. Berarti 6 tahun lagi :”)