Awan Hitam di Telepon Kita

Memanggil…

Satu dua tiga kali nada masih saja berbunyi panjang tanpa ada suara lain. Satu dua tiga kali masih tetap kuulangi. Kamu masih tidak terjangkau dan aku mulai khawatir.

00.00
00.01

Ketika nada berhenti dan sambungan mulai menghitung detik, kudekatkan persegi empat itu ke telinga tanpa buru-buru berbicara. Hening. Tidak ada suara. Hanya ada suara cegukan kecil yang terdengar samar.

“Halo…” kuberanikan memulai. Tapi yang terdengar hanya suara napas yg sesenggukan.

“Fi…?” ujarku lagi.

“Ha..halo…i..iya. Maaf ya,” ah, akhirnya kamu menjawab.

“Bagaimana?”

“Nngg..kamu bagaimana?”

Kamu malah bertanya balik. Sekelebat ada awan hitam yang melintas di pikiranku. Ada sesuatu yang tidak menyenangkan dari pembicaraan ini. Intuisi ini kuat, datang dari perasaan yang sudah sangat mengenali karaktermu. Baiknya kujawab saja dulu sambil tetap memastikan.

“Iya. Aku berhasil,” jawabku.

“Oh.. Waahh.. Selamat yaaa. Tuh, kan, kamu pasti bisa.”

Suara itu tidak terdengar seperti yang biasanya. Aku semakin yakin, ada awan hitam di antara panggilan kita. Awan hitam yang menahan suaramu dan tengah menanggung hujan, yang siap turun kapan saja. Haruskah kuperjelas awan hitam itu? Atau langsung saja kusilakan kamu menurunkan hujan dalam percakapan ini?

“Kamu belum berhasil ya?” Tanyaku.

“Iya. Belum. Maaf ya. Ternyata mereka tidak mau menerima aku. Kemampuanku masih kurang.”

Aku tidak suka kata-kata ini. Untuk apa meminta maaf dan menyalahkan dirimu di telingaku seperti ini? Awan hitam yang ada di pikiranmu mungkin telah menurunkan hujan sedari tadi. Lalu kini, rasanya awan hitam itu menjalar melalui ponsel dan masuk ke dalam dadaku.

“Kamu udah nangis?”

Mungkin terdengar aneh. Tapi aku tidak ingin awan itu terlalu lama menanggung hujan. Lepaskan saja semuanya, Fi. Bahkan kalau bisa aku ingin ada di sampingmu saat ini juga. Menangislah. Air mata itu akan serupa hujan yang menghanyutkan semua masalah ke sungai dan laut lepas. Melegakan dadamu dari sesal dan sesak.

“Eeennggg…aku ga pengen nangis. Aku udah siap-siap kalau emang nggak diterima. Tapi dari tadi air matanya nggak mau berhenti. Makanya aku nggak bisa jawab telepon.”

Kamu menjawab sambil sesenggukkan. Tidak lagi menahan perasaanmu seperti tadi. Ya, kamu memang tidak pernah ingin terlihat lemah. Kamu adalah perempuan yang kuat dan jarang menangis. Tapi dalam beberapa hal, tidaklah mengapa jika ingin menangis.

“Iya. Aku juga rasanya pengen nangis kok. Tapi kamu yang lebih berhak untuk nangis. Setelah ini aku tutup teleponnya. Kamu menangis aja dulu tidak apa-apa. Besok kita sambung lagi, ya.”

“Eh…engg..enggak kok nggak apa-apa. Udah lama nggak ngobrol juga kan? Udah selesai kok nangisnya.”

“Jangan, Fi. Baiknya kamu ngobrol dulu aja sama Mama dan Papa kamu. Besok aku telepon lagi. Eh, iya, kamu daftar SIMAK, kan?”

” Iya. Daftar kok. Oh. Yaudah. Aku akan berusaha lulus di situ. Makasih ya, Ri. Maaf bikin kamu jadi sedih juga.”

“Tidak kok. Sama-sama, Fi. Dah..”

Panggilan Selesai.

Di depan layar komputerku masih tertampang tulisan “SELAMAT, ANDA DITERIMA DI UNIVERSITAS”. Tapi aku sendiri tidak tau apa yang sekarang sedang kurasakan. Aku baru tau, ternyata bahagia dan sedih bisa dirasakan bersamaan. Awan hitam dari panggilan kita tadi, menahan senja yang bersinar cerah hari ini.

Advertisements

Tentang Perjalanan

Tentang perjalanan yang tiba-tiba dan cerita tentang kehidupan yang mengalir di dalamnya. Karena pada dasarnya, hidup juga adalah sebuah perjalanan.

Aku bahkan lupa apakah ada alunan musik atau tidak di dalam ruangan kecil itu. Panas dan bising sempurna dihisapnya. Menyisakan kita yang membalik halaman-halaman buku juga tabir-tabir pikiran kita tentang kehidupan. Membuka satu demi satu warna yang tidak pernah tampak sebelumnya.

Tempat ini sungguh menarik. Aku bersyukur kita bisa kesini.

Di dalam ruangan kecil itu kita berdua saling berbisik pelan. Tentang gambar di dalam buku dan dunia di dalam kepala kita. Kata-kata yang tertuang dalam suara tanpa perlu ada diksi dan umpama. Lebih jujur dan rahasia dan aku sangat menikmatinya.

Ah, kapan kali terakhir kita meluangkan waktu untuk saling bercerita sambil bertatap mata?

Meskipun aku berusaha keras mengingat-ingatnya, rasanya hampir tidak pernah ada. Kita lebih banyak bicara dalam kata-kata. Baik melalui pesan singkat, maupun tulisan-tulisan panjang di buku harian dunia maya. Sekalipun ada, yang kuingat adalah suasana kantin fakultas ketika kita membicarakan tentang tanggung jawab dan kau menangis tepat di depan mata. Atau suasana kantin gedung Jalan Sudirman yang dirasa terlalu formal.

Janji ini telah tertinggal lama dalam diksi percakapan yang sering lupa terbalas.

Kalau tidak salah kita sudah membahas tempat itu beberapa kali dalam percakapan juga di kantin gedung Jalan Sudirman. Dari setiap waktu dan tempat, tidak akan ada yang tau kenapa sekarang dan kenapa bisa terlaksana. Hidup dan perjalanan di dalamnya memang seringkali dipenuhi oleh kejutan.

Tak terasa matahari sudah tidak tinggi, kita juga tidak pernah berjanji untuk menunggu senja hadir.

Karena itu, saat waktu telah dirasa cukup dan sebelum kita saling berbalik badan, aku tetap mengatakan, “sampai bertemu lagi nanti”. Siapa yang tau waktu akan memberikan kejutan-kejutan lagi dalam perjalanan ini. Meskipun cerita kita hanya sebagai sepasang garis sejajar. Sebelum senja turun dan kita terpaku olehnya, aku pun berjalan pergi.

Puisi – Puasa

Tuhanku
Betapa sulit perintah puasa yang kau berikan ini
Lapar dan haus mungkin mudah untuk disiasati
Nafsu dan syahwat juga dapat diredam pergi
Namun hati hanya Engkau yang mengetahui pasti
Bagaimana kami dapat mengetuk hati sendiri
Tentang hakikat puasa yang dijalani
Apakah sudah tumbuh empati di hati kami untuk memberi?
Apakah kami sudah mampu meneladani rasa lapar yang dialami saudara kami setiap hari?
Atau justru, hanya sia-sia kami selama ini
Atau malah, kami sedang menipu dan mempermalukan diri sendiri
Hidangan yang bermewah-mewahan untuk menyambut tenggelamnya matahari
Umpatan, cacian, dan gunjingan yang masih tidak kunjung berhenti
Bahkan masih tidak terima pada makanan yang terhidang di tempat makan siang hari
Wahai yang mampu mengetahui isi hati
Sungguh amalan ini hanya Engkau yang mampu menilai
Telah berlalu hari hingga Purnama kini telah digenapi
Namun entah sampai mana amalan kami yang Kau ridhoi
Dalam setiap ketidaksempurnaan kami
Mohon ridhoi semua kebaikan di tengah lapar dan dahaga siang hari ini

Yang Tiada

Angin malam mengetuk jendela kamarmu pelan-pelan
Namun tidak kau biarkan ia singgah sebentar
Kau memilih menutup wajahmu dengan selimut, mencoba menghentikan waktu
Kau memilih melupakan ucapan selamat tidur pada malam-malam yang jemu
Ketika kata hanya hadir berupa
Balon-balon percakapan singkat
Yang tak lagi ingin berbalas
Katakan, di mana kau kubur namaku
Yang telah kau bunuh dari lembar buku usangmu

Perawat

Guratan-guratan itu
Adalah sekumpulan cerita
Tentang waktu, yang pemilih
Mana yang akan ia sembuhkan, mana yang selamanya membekas

Lihatlah ini
Sayatan yang membekas perih
Duri yang tertancap di hati
Luka yang bersenandung lirih
Mimpi yang meninggalkanku dan pergi
Tanpa sepatah kata untuk kembali

Kudengar di tanganmu
Luka membekas tiada
Dapatkah lukaku juga?