Menikmati Sepi yang Terakhir Kali

Dari satu-satunya jendela yang menghadap ke utara
Cahaya memantul lalu menembus serat-serat kain hijau muda
Dari atas kasur tanpa dipan yang tidak seberapa empuk
Aku mensyukuri nikmat yang kumiliki
Salah satunya adalah bisa memiliki ruangan ini
Bersama dinding-dinding tembok putih yang dingin
Meja kayu dan sebuah bangku yang tidak lagi baru
Atau lemari baju yang isinya jarang tersusun rapi
Aku pernah merasa memiliki wilayah pribadiku sendiri
Bergumul dengan sepi
Merenung bersama hening
Atau mencoba mendengarkan sunyi
Dalam sepi, kejujuran akan bicara lebih berani
Dalam sepi, sajak-sajak ini lebih sering menangis
Lalu karena kini tiba saatnya ku untuk beranjak pergi
Kuucapkan terima kasih untuk kesendirian yang pernah kumiliki
Dalam ruang persegi 5×4 meter ini
Aku pernah merasa merdeka dan bebas
Seorang diri

Tertanda aku, penikmat sepi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s