Sekilas Cerita Tentang Kerja

Jpeg

Jpeg

Dalam ruangan kecil itu ditemani sepi. Hanya ada satu meja bundar dan beberapa kursi sebagai tempatnya bekerja bersama yang lain. Gelas kaca yang hampir kosong di sebelah kirinya. Setumpuk kertas dengan klip yang tersusun rapi di sebelah kanan. Pandangannya lekat menatap layar laptop yang terus menyala. Pada tombol-tombol itu, jarinya lihai menari mengetikkan angka dan bermacam perintah. Baris dan kolom saling bercengkrama bersama angka dan kata yang mengisinya. Sesekali ia selipkan warna di dalamnya, untuk memperindah juga sebagai penanda dan batas yang jelas.

Ia periksa semua dokumen tebal di sisi kanannya dengan hati-hati. Membacanya sekilas namun awas terhadap angka-angka yang penting. Satu per satu ia masukkan kata dan angka ke dalam tabel yang sudah disiapkan sebelumnya. Memeriksa angka, tanggal, dan juga otorisasi dengan cermat. Demi mendapatkan sebuah keyakinan yang cukup dan layak diterima.

Lain waktu ia hanya fokus kepada angka-angka penyusun sebuah nama. Lalu menghitung ulang semuanya untuk mendapatkan hasil yang tepat. Ada kalanya ia berkutat dengan perubahan nilai kurs. Pernah juga ia memeriksa penghitungan umur suatu dari suatu transaksi. Atau sesekali menanyakan nature dari suatu nama untuk memahami bagaimana mereka mengelompokkannya.

Kali ini ia memutuskan untuk keluar ruangan bersama dengan timnya. Melewati koridor menuju sebuah ruangan yang lain. Menghampiri beberapa orang yang baru ia kenal, belum ia kenal, atau yang tak perlu ia kenal. Ada berkas yang harus diminta. Dua hari lalu, mereka menjanjikan untuk tersedia hari ini. Setelah sebelumnya mereka berdebat karena pencatatannya belum dirapikan. Dokumen didapatkan, kita kembali ke ruangan. Kembali menari di atas tombol segi empat hitam, mengetikkan angka, huruf dan perintah.

Matahari tenggelam. Dirinya yang belum memiliki posisi apa-apa tengah berharap-harap cemas menunggu keputusan seniornya. Ada data yang tersedia, tapi waktu telah berubah gelap. Haruskah ia melanjutkannya sampai tengah malam?

“Rasanya kita belum terlalu diburu waktu. Kita lanjutkan besok saja.”

Dengan senyum yang tertahan, segera ia berkemas pulang. Setidaknya hari ini, tidak perlu sampai larut malam, pikirnya lega.

***

Epilog:

Dari balik kaca ruangannya, ia menatap ke luar. Ke arah kaca jendela yang basah oleh rintik-rintik dan tampias hujan. Jika dulu ia memandangnya dari jendela rumah atau kosan, tentu ia akan menikmati saat-saat itu sendirian. Melamunkan banyak hal, mendengarkan orkestra hujan. Atau jika sedang bersemangat, jemarinya akan menari merangkai sepotong bait. Namun kali ini, jarinya hanya bisa menari memasukkan kata, angka, dan perintah.

Tapi kali ini tidak. Di sela waktu yang sedang luang ini, ia putuskan untuk menarikan jarinya kembali membentuk sepotong bait. Sebab ia tau, hanya itu satu-satunya cara agar jiwanya tidak mati. Agar jiwanya tetap terbebas di samudera puisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s