Kosong

323224

Kehilangan adalah lubang besar yang menganga di dalam dada. Semilir angin menyusup ke dalam rongga-rongga sepi di dalamnya, melantunkan kidung tak berkesudahan. Adalah ketika kau terbangun di pagi hari dan menyadari bahwa ada yang tidak akan sama lagi. Baik hari ini, maupun di hari-hari setelahnya

Hujan yang turun di persimpangan jalan itu nampaknya tak akan berhenti dalam waktu dekat. Di sudut ruang, terserak berbagai gambar penuh cerita dan cinta. Kenangan masih tergantung di langit-langit kelabu. Ketika datang dan pergi yang terjadi berulang kali tetap saja menyisakan seiris pilu di hati. Di dalam villa itu, tumpah ruah seluruh air mata mengalahkan deras hujan di luar jendela.

Sungguh, aku tak dapat berkata-kata lagi. Kalian mungkin tak akan melihat merahnya sklera yang basah pada bola mata. Ataupun sedu dalam kata-kata ku. Sudah tak lagi terasa semua. Aku tak mengerti bagaimana menjelaskannya. Seakan dada ini memiliki lubang besar yang menganga. Kosong, dingin, terasa hampa dan pilu. Air mata tak lagi mampu menjadi ekspresi atas perasaan itu.

Kita berpelukkan. Saling menghampiri dan mengucapkan sedikit salam penuh isak dan haru. Biarkan kini kita saling jabat dan peluk, agar rindu ini punya tempat untuk tumpah, menyusul air mata yang sudah datang sebelumnya. Aku masih ingin bersama kalian semua, andai saja kita bisa sama-sama menghentikan waktu yang tak kenal ampun itu.

Bahkan perpisahan masih sempat membagikan kejutannya. Ada yang mengucapkan terima kasih untuk sesuatu yang mungkin tanpa sadar telah kulakukan dan sangat berarti baginya. Ada yang memberikan apresiasi dan kekaguman yang luar biasa meski ia tak pernah ikut jadi bagian di dalamnya. Ada yang kukenal sebagai yang dapat diandalkan, dengan tulus mengucapkan terima kasih atas semua pembelajaran. Ada yang bangga sempat menjadi bagian dari keberhasilan terbaik tahun ini. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa ia menganggapku kakak yang ia sayangi, sama seperti mereka yang menganggapku sebagai sosok seorang Bapak. Ah, kejutan apa pula yang Kau siapkan ini? Aku sungguh tak dapat berkata-kata menjawab semua perasaan kejujuran itu…

Kami adalah merpati-merpati yang akan pergi dari dahan pohon kayu putih. Mengepakkan sayap-sayap kecil kami untuk menerjang dunia yang lebih luas lagi. Sedih rasanya meninggalkan rumah tempat bernaung selama tiga tahun ini. Namun kini musim telah berganti dan memang saatnya kami pergi. Meninggalkan ruang segi empat yang jarang sekali rapih itu. Buku-buku yang tercecer di lantainya. Rerumputan tempat kita bersajak dan berdiskusi di kala senja. Juga sofa tempat kita menunggu senja yang kini sudah tiada. Kami titip semua kenangan dan cinta itu pada kalian.

Menitipkan bukanlah sebuah kata yang hanya diturunkan begitu saja tanpa sebab. Namun kami ingin emnitip semua kenangan dan cinta yang telah tumbuh besar kepada penerus keluarga kami. Karena sekarang sudah menjadi tugas kalian untuk merawat merpati-merpati yang masih kecil. Menguatkan sayap-sayap rapuh mereka, sembari dirimu belajar untuk terbang dan melesat ke angkasa. Karena kami percaya, kalian dapat terbang lebih tinggi suatu saat nanti.

Terima kasih untuk semua detik yang telah merajut cerita kita bersama. Dalam rangkaian kata yang tak terucap di hari itu kini aku persembahkan. Untuk hujan yang turun di setiap pagi setelah ini. Juga untuk semua cinta yang tidak akan hilang kepada rumah itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s