Antara SN dan Batman

Saya bersyukur pernah berpengalaman sebagai jurnalis
Saya pun bersyukur pernah terlibat dalam jurnalistik investigasi
Di dalamnya ada banyak pelajaran berharga dan menarik

Jadi semalam aku baru saja menonton tayangan ulang Mata Najwa di Youtube soal kasus Setya Novanto (SN). Selama ini hanya mengikuti beritanya dari situs berita online saja dan memang semakin keruh. Tapi aku belum sempat melihat acara Mata Najwa yang membahas persoalan ini. Berhubung sedang punya “waktu luang”, jadilah aku menonton itu.

Bisa dibilang aku sangat menyukai program televisi Mata Najwa ini. Alasannya satu, acara Mata Najwa menampilkan bincang-bincang dengan bentuk wawancara yang serius. Menonton Mata Najwa bagiku adalah sarana untuk belajar dan menumbuhkan semangat jurnalistik. Mungkin klise dan terlihat berlebihan, tapi toh itu pendapat pribadi. Cara Najwa selama ini “menjamu” tamunya menurutku sangat menarik. Benar-benar seperti seorang jurnalis yang sedang mengorek keterangan dari narasumbernya. Bahkan bisa dibilang semua pertanyaan yang dilontarkan Najwa benar-benar tanpa “filer”. Sempat juga terekam dalam beberapa episode dimana Najwa melakukan “skak mat” sampai tamunya tak bisa berkata-kata lagi.

Tanya jawab yang dilakukan antara Najwa, Ruhut, dan Fadli Zon diselingi dengan rekaman wawancara terbilang cukup seru. Kasus yang memang sedang hangat namun seolah coba dibolak-balikkan ini seumpama pembenaran bahwa hukum tak lagi bersandar pada nurani. Padahal sudah jelas siapa berkata apa, tapi masih saja terbuka celah untuk berkelit. Baik dari dewan maupun “para sahabat” yang mendukung. Caranya sama saja, menciptakan cacat logika dalam komentar sembari mencari cacat hukum pada peraturan.

Hal itu lantas mengingatkanku pada suatu pengalaman jurnalistik investigasi di lingkup kampus. Pengalaman yang sangat berharga, tak pernah terlupa, namun juga menimbulkan kekesalan dan rasa tidak percaya pada “pihak mereka” untuk selamanya. Singkatnya, sebut saja pengalaman itu untuk mencari kebenaran tentang “Akang Batman”. Disini aku tidak akan membahas pengalaman itu secara lengkap (kalau mau coba saja cari di situs berita online organisasi saya. Wkwkwk).

Kasus batman itu sederhananya adalah tentang beredarnya suatu percakapan dalam grup yang membicarakan tentang rencana dinamika untuk rapat forum mahasiswa keesokan harinya. Masalahnya, orang-orang yang ada dalam percakapan itu hanyalah sebagian dari anggota forum mahasiswa (forma) dan bahkan ada beberapa orang yang bukan bagian forma. Ada juga beberapa nama lain yang disebut untuk mengatur (mereka sebut melakukan dinamika) rapat. Semua yang ada di dalam percakapan itu memiliki kesamaan, yaitu dinilai berasal dari golongan tertentu. Isi percakapan yang berupa screenshoot itu tersebar kepada publik mahasiswa dan dianggap salah oleh publik karena ada forum di dalam forum yang seakan membawa kepentingan. Ya, kepentingan terkait masalah yang dibahas dalam rapat forma.

Sekilas permasalahan ini mirip ya dengan kasus SN. Ada barang bukti berupa percakapan yang kini diketahui publik bahwa ada rencana di balik layar, ada main di belakang. Pada saat screenshoot itu tersebar, beberapa mahasiswa segera merespon dalam bentuk kritik, baik di twitter maupun LINE. Esok harinya juga anggota forma diminta berkumpul untuk memberikan klarifikasi.

Pada saat klarifikasi, pihak yang namanya ada di dalam percakapan itu ataupun disebut dalam percakapan berkilah. Yang namanya disebut mengatakan bahwa ia tidak tau menahu soal peran “dinamika dalam rapat” tersebut. Orang yang tergabung dalam percakapan grup itu mengatakan bahwa itu adalah dialektika biasa sebagai bentuk kepedulian dari mereka sebagai teman-teman “sepermainan”. Kata-kata andalannya satu, “mahasiswa kan bebas untuk berpendapat dan berdiskusi.” Sementara anggota forma yang tidak tergabung dalam percakapan rahasia it uterus menanyakan tujuan yang selalu dijawab dengan melipir kepada hal yang lain.

Salah satu yang paling membuatku kesal (versi lebih sopan dari Muak!) adalah ketika ada yang bermain “victim play”, berperan seolah sebagai korban padahal dia adalah pelaku. Screenshoot yang tersebar itu memang diambil secara diam-diam dari handphone salah satu anggota Batman, kemudian dikirimkan pada orang lain untuk disebarkan. Orang yang men-screenshoot dan yang pertama menyebarkannya sampai saat ini tidak diketahui (atau mungkin mereka sudah tau).

Pada saat klarifikasi, salah satu anggota Batman tersebut mengakui bahwa screenshoot itu diambil dari handphonenya. Tapi dia malah berkata bahwa privasinya diambil dan meminta kepada pelaku screenshoot tersebut jika ada di antara orang yang hadir untuk mengaku. MAN!!! Kita lagi ngomongin isi dari percakapan trus tau-tau dia merasa dirugikan karena privasinya diambil? Cih!!! Kok kepikiran ya buat main “victim play”? Cacat logika!

Duh, sungguh benar rupanya bahwa Universitas itu bisa menjadi replika dari dunia nyata. Ketika saya menonton acara Mata Najwa yang memperdengarkan hasil rekaman kepada FZ, dia masih saja bisa berkilah dengan mengatakan, “itu memang suara siapa?”, “itu hanya candaan diantara pejabat”, “Menteri tidak bisa melapor kepada Dewan Etik DPR. Seharusnya masyarakat yang melapor.” Kira-kira kutipannya seperti itu. Seketika aku langsung teringat dan menggumam dalam hati, “hmm,,,cara yang dipakai anggota Batman ketika berkilah juga sama ya ternyata.”

Mengenai cara berkilah, sebenarnya mudah saja ternyata. Aku juga jadi belajar cara umum yang dipakai untuk berkilah karena tugas jurnalistik investigasi tersebut. Biasanya orang yang sudah ketahuan bersalah akan mengatakan bahwa sebenarnya hal yang dia lakukan itu benar dengan beberapa alasan. Singkatnya adalah menggiring opini orang lain. Atau ada juga yang akan menjawab “tidak tau” atau “belum terbukti”. Biasanya ini hanya dilakukan oleh orang yang memang belum tertangkap basah. Atau yang paling sering dilakukan adalah jawaban dari setiap pertanyaan dikaburkan atau dialihkan kepada hal lain. Seperti menjawab tapi tidak menjawab, berharap orang lain ikut terbawa dalam permainannya sehingga tidak membahas hal itu lagi. Sisanya masih banyak cacat logika yang dipakai untuk berkilah.

Dan memang hal itulah yang dilakukan oleh para anggota Batman itu. Pada saat itu aku sebagai jurnalis belajar untuk memaksa sebuah informasi untuk dikatakan. Belajar untuk mempertahankan logika dan menggunakannya sebagai senjata menjebak narasumber untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Caranya adalah dengan terus menanyakan hal yang sama lewat pertanyaan yang berbeda, mencocokkan jawaban pertama dan yang berikutnya, lalu membangun kerangka berpikir untuk menilai logis atau tidaknya antar jawaban tersebut. Tidak lupa dengan mempersiapkan data-data yang diperlukan sebelumnya. Ketika ada celah, baru serang! Secara teori sih seperti itu tapi sulitnya bukan main. Meski begitu, pengalaman itu sangat berharga sekali.

Aku tidak tau apakah hal itu akan berguna bagi karirku di masa depan. Tapi biar bagaimanapun, pengalaman melakukan investigasi dan mencari kebenaran dari sebuah kasus adalah pengalaman yang luar biasa. Mungkin lingkupnya memang masih daerah kampus dan yang kuwawancara hanya “pejabat mahasiswa”. Tapi bukankah mahasiswa sebagai yang katanya sudah tercerahkan hati dan pikirannya adalah agen perubahan Negara di masa depan? Yah, tapi entah bagaimana di masa depan nanti kalau mahasiswanya saja justru belajar untuk saling menutupi kesalahan seperti itu.

Memang tidak ada habisnya ya kalau aku sudah membicarakan organisasi jurnalistik tempatku bernaung ini. Tiga tahun dari seluruh masa kuliah kuhabiskan disini. Mulai dari mengerjakan hal kecil, mengepalai produk, hingga menjadi pengurus. Aku pun bisa mendapatkan pengalaman sesuai minat yang baru aku ketahui setelah bergabung. Karenanya, aku sangat bersyukur pernah berpengalaman menjadi jurnalis dan pernah terlibat dalam jurnalistik investigasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s