Risau

Denting jam yang berbunyi beradu dengan suara deru kipas di kamar
Menemani lamunan risau yang tak kunjung usai terpikirkan
Ketika kurebahkan badan dan kuhela napas
Bayang-bayang cerita saling berkejaran satu sama lain
Bulan bergerak naik menjaga malam yang semakin sepi
Aku tenggelam di antara dingin yang menelusup pori.

Rintik gerimis masih menyisakan basah pada wajah
Saat ku kembali dari kisah singkat yang melelahkan
Dinding putih kamar terkesiap melihatku heran
Pada dua kaki yang masih mampu menopang risau
Adakah aku memang setegar itu?
Bahkan tadi, senja memalingkan wajahnya tanpa senyum

Kesunyian berbisik pada semilir angin yang bertiup
Baiknya lepaskan saja, tak lagi ada gunanya
Bila gelang rantai masih saja menahan langkah
Maka jangan berdiam dan semakin menggoreskan luka
Tentang dia, yang tak dapat lagi ku sapa
Tak perlulah membelai senyum hangat mentari
Jika hanya akan membakar arang di dalam luka yang perih

Rintik gerimis menyenandungkan lagu kerinduan pada malam
Menusuk hati yang seumpama sayap kupu-kupu yang rapuh
Aku yang tak mampu terlelap disini menutup mata
Membendung risau yang menitik sepi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s