Aku yang Perfeksionis Atau Kamu yang Tidak Mau Peduli?

Menyadari tulisan curhat saya yang sangat jauh dari kata bagus seperti surat-surat terbuka yang dilayangkan baik kepada wakil rakyat, menteri, presiden, ataupun DPM dan Pemira (#eh) yg marak akhir-akhir ini, saya jadi ingin mengasah jenis tulisan yang satu ini. Namanya tulisan curhat terbuka (gw namain sendiri). Oke, ga ada hubungan ataupun manfaatnya sih. Tapi kan harus ada intro dari setiap tulisan. Yaudah, daripada makin ga jelas intronya, langsung aja lah…

***

Mahasiswa tentu tidak asing dengan dinamika organisasi dan segala kesibukan di dalamnya. Tidak harus dalam sebuah wadah eksekutif dan legislative, organisasi apapun pasti memiliki kesibukan yang akan bermanfaat kelak bagi kita nanti. Biasanya, yang dijanjikan adalah pembelajaran soft skill yang tidak akan ditemui di kelas. Untuk itulah mahasiswa berbondong-bondong mendaftar organisasi yang tersedia dan menarik minatnya.

Dalam proses rekruitmen awal, apapun bentuk pertanyaannya, pasti akan ditanya tentang komitmen kepada organisasi tersebut. Seberapa jauh mau bersusah-susah demi visi dan misi suatu organisasi. Dan setiap mahasiswa yang ditanya, apapun tingkat komitmen dan loyalitasnya, akan selalu menjawab hal yang menyenangkan hati. Seakan berjanji untuk setia dan bersedia untuk memajukan organisasi tersebut. Sayangnya, beberapa kata hanya manis di awal saja.

Ketika sudah diterima, lantas apakah kita akan berusaha menjalankan tugas organisasi? Ya, tentu saja. Namun sampai kapan kita dapat mempertahankan loyalitas dan komitmen tersebut? Parameter termudah untuk mengukurnya adalah seberapa banyak waktu yang kita relakan bagi organisasi tersebut. Misalnya ketika ada jadwal yang mengharuskan kumpul, apakah kita akan langsung menaruhnya pada prioritas pertama atau kita biarkan saja dan hanya akan hadir jika benar-benar sempat?

Jadi begini. Pada hari kamis saat rapat bulanan organisasi, dijelaskan bahwa pada Jumat siang, sekitar jam 13.00, akan diadakan briefing singkat untuk sebuah kegiatan. Estimasi yang diberikan hanya sekitar 30 menit. Yang mana jam 13.00-14.00 adalah waktu kosong bagi semua mahasiswa, dalam artian tidak ada kelas karena masih siturahat siang setelah Solat Jumat. Ketika diberitahu hal tersebut, hal yang akan gw lakukan adalah mengingatnya dengan baik dan meluangkan waktu yang diminta tersebut.

Apakah hal itu sebaiknya dilakukan oleh semua orang? Apakah hal itu dilakukan oleh semua orang? Sayang sekali, jawabannya adalah tidak.

Pada akhirnya karena entah sedikit atau tidak ada sama sekali yang datang (gw ga ikut karena emang ga termasuk dalam kegiatan itu), briefing dibatalkan. Ketika ditanya di grup chat, hanya ada komentar-komentar “lupa” dan “tidak sempat”. Sebagian besar tidak menjawab. Sudah tidak pedulikah kita? Tidakkah mereka mencatat atau setidaknya mengingatnya dengan baik lalu meluangkan waktu mereka yang sangat mahal itu? Ah, atau mungkin hal itu sudah biasa. Mungkin memang gw aja yang terlalu perfeksionis dengan mengingat dan meluangkan waktu. Toh, project officer kegiatannya saja bilang ga marah kok.

Apa yang gw jelaskan barusan adalah sebagian kecil dari bentuk apatis yang sudah terjadi setahun ini. Bahkan hal tersebut juga sempat terjadi pada acara yang seharusnya sesama anggota saling bersenang-senang. Yaitu pada hari-H acara, mereka semua tidak bisa menyempatkan dirinya untuk datang. Sedih, bingung, kesal. Kok bisa ya ini para staff tidak ada semangat dan tidak mau meluangkan waktunya sama sekali sih? Memangnya mereka pikir panitia yang mengadakan tidak menyiapkan banyak hal untuk hal ini? Tidak berlelah-lelah untuk hal ini?

Kemana perginya janji untuk menyediakan waktu bagi organisasi yang dulu sangat lancar dijawab ketika proses rekruitmen? Adakah ia tertinggal di pintu masuk dan menguap ke langit? Kenapa seolah sekarang mereka hanya peduli pada pekerjaan masing-masing padahal kita semua masih satu organisasi. Ataukah kita semua memang sudah jenuh dengan lingkungan yang ada?

Ah, tapi sudahlah. Mungkin gw hanya angkatan tua yang cemas berlebihan terhadap regenerasi organiasasi. Pada akhirnya masa bakti gw dalam organisasi hanya hitungan bulan dan sampai saat ini, gw merasa sudah memberikan yang terbaik yang gw bisa pada organisasi ini. Meski begitu, satu pertanyaan tetap saja mengganjal pikiranku.

Aku yang Perfeksionis Atau Kamu yang Tidak Mau Peduli?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s