Jawaban Untuk

Kau sisipkan sajak diam-diam pada semilir angin yang menuju halamanku
Yang di dalamnya hanya bisa kulihat dua kata, maaf dan terima kasih
Keduanya menjelma menjadi satu-satunya sajakmu yang menyebut namaku
Karena menurutmu baru sekaranglah waktu yang tepat itu
Aku tak mengerti kenapa kau namai waktu seperti itu untuk dua kata itu?

Aku ingin tau, apakah sebenarnya kau tau dimana dirimu pada sajak tanpa nama itu?
Karena jika kau tau, maka kau sudah tau apa yang tersembunyi di baliknya

Andai saja aku bisa menjadi apapun
Bukan hanya atap yang kuat ataupun nahkoda yang sabar
Andaikan bisa, aku ingin membuat semuanya lebih baik lagi
Aku juga ingin menjelma tangan yang besar
Yang mampu memeluk erat semua nama dan memberikan kenyamanan
Atau menjelma kata-kata yang mampu menumbuhkan sayap
Agar kita semua dapat terbang lebih tinggi membawa peran kita
Tapi tentu saja semua itu tidak mungkin bukan

Tentu saja semua itu bukanlah tugas dari peranmu sendiri saja
Tak perlu bersedih atau merasa bersalah

Bahkan aku tak yakin dengan tujuan dari semua yang kulakukan
Aku pernah bertanya pada cermin tentang ketulusan, tapi ia tak tau
Selama ini ia hanya bisa menampilkan topeng yang kukenakan
Begitupun dengan makna pengorbanan, yang seharusnya tak pernah disebutkan
Keduanya adalah kata yang tak pernah kuyakin ada pada setiap langkah
Karena tak pernah ada yang tau apa yang tersembunyi di balik hati

Malam adalah satu-satunya saksi yang tau kebenarannya
Hanya kepadanyalah aku bercerita, agar saat pagi datang semua terkubur dalam mimpi

Aku tak ingin mendengar riuh tepuk tangan yang kau bilang pantas
Khawatir ia akan meruntuhkan dinding batu yang kubangun
Bukan…bukan dinding untuk menutupi rasa haru, melainkan rasa ragu
Karena sesungguhnya, semangat yang kau lihat hanyalah sebuah topeng pelarian semata
Karena selama ini, aku hanya berlari menjauh dari mimpiku yang telah menjadi abu
Bahkan sejak awal kapal ini berlayar, kau paham betul bukan?

Pada akhirnya kita kini hanya perlu meneruskan membaca dialog pada peran kita
Namun tanpa kesungguhan dan keikhlasan, kita tidak akan bisa mengakhirinya dengan senyuman

Karena itu, aku tak pernah ingin mendengar kata maaf dan terima kasih yang terlalu dini
Kau terlalu sering mengucapkannya, dan itu terasa semakin berat saja
Apalagi sebagai satu-satunya pesawat kertas yang kau layangkan ke halamanku
Maaf juga, kalau aku jadi semakin terlihat tak dewasa pada sisa peranku
Mendapat mahkota tanpa ada kesungguhan dari yang dipimpin sungguh sangat menyebalkan

Teruntuk dirimu, ada merpati kecil yang akan kukirimkan menuju telapak tanganmu
Nanti, di persimpangan jalan, di halaman terakhir naskah dialog kita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s