Sebuah Alasan

Nyatanya memang tak semudah apa yang dipikirkan. Untuk mengubah semua rasa dalam pikiran menjadi sebuah frasa. Masih terdapat banyak rongga dalam setiap kalimat dan paragraf. Yang tak dapat diisi dengan sempurna karena tidak semua kata dapat dengan mudah dibahasakan. Masih ada diksi yang rasanya kurang pantas. Masih ada titik koma yang tidak tepat. Ditambah dengan waktu yang mengejar, maka hilanglah sudah semua kata dalam kamus bahasa.

***

Rasanya semua rasa dan kata ingin keluar menyeruak, tumpah ruah begitu saja, namun tanpa aturan yang tepat untuk bisa menyusunnya. Semua kata yang merupakan akumulasi dari pemikiran liar di setiap tengah malam tumpah dan dipaksa tumpah seketika. Pemikiran tentang hal-hal abstrak yang mungkin tak akan pernah ada habis-habisnya untuk dipelajari, didiskusikan, dan direnungi. Tapi nyatanya semua itu hanya berbentuk kalimat-kalimat yang tidak berhubungan satu sama lain. Sehingga untuk menyatukannya pun butuh usaha lagi.

Keinginanku hanya satu, untuk yang terakhir kalinya, aku ingin menuliskan sesuatu yang benar-benar bisa menggambarkan pikiranku selama ini. Menunjukkan sebuah hasil pemikiran yang dibentuk dari lingkungan yang sudah tiga tahun penuh aku jalani ini. Terlepas itu sesat, bias, maupun tidak sempurna. Toh ini hanya pemikiran hasil perenungan, bukan teori yang ingin diuji di ruang sidang. Karena itu aku bersikeras untuk menuliskan hal itu, meski mungkin akan telat.

Dan benar saja, memang telat…

Tapi waktu juga memainkan peran penting. Waktu dapat menjelaskan sepenuhnya bagaimana aku tidak bisa menaruh prioritas untuk tulisan ini karena ada hal lain yang tenggatnya mendahului untuk dikerjakan. Tapi hal itu pun sudah dipikirkan masak-masak. Ada perhitungan yang bukan sebuah pembenaran yang membuatku berpikir tulisan itu sanggup selesai, setidaknya dengan keterlambatan yang tidak terlalu lama. Karena itu, meski tidak dikerjakan dari jauh-jauh hari, sesungguhnya tulisan ini juga sudah diprioritaskan sedemikian rupa.

Hingga akhirnya, tulisan itu pun selesai pada Selasa pagi pukul 2.00. Bukan hanya satu, tapi dua tulisan! Loh, untuk apa sampai membuat dua? Ya, jadi memang ada cerita dibaliknya, tapi setidaknya keduanya terselesaikan dengan baik, bersamaan.

Hal ini dikarenakan sudah sejak jauh-jauh hari aku terpikir dua buah topik yang ingin aku angkat menjadi tulisan. Sejak 16 Agustus, keduanya coba kutulis bersamaan. Awalnya aku menuliskan apa-apa saja yang kupikirkan tentang topik pertama pada tulisan yang pertama. Setelah itu aku pindah pada topik kedua di tulisan kedua. Keduanya dikerjakan bergantian. Tergantung ilham yang singgah dalam tempurung kepala ini. Meski jika dipikir aneh juga, ketika sedang buntu di topik pertama, lalu iseng membaca tulisan pada topik kedua, tiba-tiba terpikirkan ide untuk menyambung tulisan yang kedua. Karena itu aku menyebutnya dikerjakan secara parallel.

Sekarang, karena aku sudah memilih salah satu di antaranya yang lebih cocok untuk dikirimkan, satu tanggung jawab sudah terpenuhi. Saatnya untuk berpindah ke tanggung jawab berikutnya. Dimana kali ini tugasku bukanlah menulis, namun mengedit tulisan. Hihihi

 

*alasan ini untuk tugas SPM yang telat dikumpulkan. Tapi kayaknya panitianya juga ga mungkin baca, sih. Jadi yaudahlah. Wkwkwk*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s