Sebuah Perang Ketamakan

Kemarin adalah saat paling mendebarkan tiap semesternya yang sudah terulang 5 kali (buat ku sih 5 kali). Dimana kemarin adalah kali ke-6 nya. Semua orang menyebutnya dengan istilah War (perang). Secara tidak langsung, memang kami di saat itu saling “berperang” adu kecepatan demi memperebutkan apa yang kami inginkan. Nama perang itu adalah SIAK-War.

Alasannya pun egois. Meski mungkin banyak yang menyangkal bahwa perang ini hanya agar mereka mendapatkan kelas yang sama dengan teman-teman mereka, tapi tetap saja itu egois. Bahkan aku yang ikut perang pun mengakui bahwa alasan ku selama ini memang untuk sesuatu hal yang egois. Ya mau bagaimana lagi? Ketika ada kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik tentunya kita akan berjuang bagaimanapun caranya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik itu bukan? Apalagi untuk urusan nilai.

Oh, tidak. Jangan katakan kalau itu “hanya sebuah nilai” jika pada kenyataannya hal itulah yang akan dibangga-banggakan di garis finish nanti. Toh hal itu masih tetap dilirik saat pengumpulan berkas riwayat hidup nanti. Ada sejuta alasan yang akan saling beradu jika kita membahasnya sekarang. Walau aku juga setuju bahwa itu masuk seven deadly sins, tepatnya Greed. Alasannya terserah tafsiran pembaca.

Karena pada dasarnya memang kami semua tamak, maka kami tidak akan terima apapun alasan yang akan menghambat perang kami. Tak terkecuali sebuah kesalahan kecil pada sistem yang membuat kami tidak bisa masuk ke medan perang. Mungkin memang tidak mengapa jika hal yang terjadi adalah sama rasa sama rata – meski kami lebih suka paham kapitalis – yaitu ketika semua tidak bisa ikut berperang. Fair! Tapi nyatanya tidak, hanya satu golongan tertentu yang tidak bisa masuk sementara ada golongan yang lain bisa, dan ini hanya terjadi di satu jurusan. Unfair! Sebut saja golongan yang tidak bisa adalah Reguler, sementara golongan yang bisa adalah Paralel.

Lalu kemudian mulai muncul keluhan. Awalnya sih Nampak biasa saja. Toh setiap tahun juga kerap kali muncul masalah. Lagipula golongan yang bisa dan tidak bisa tersebut bukan karena memang dibeda-bedakan. Hanya saja input pada sistemnya yang berbeda. Tapi rupanya kali ini mulai datang awan hitam pada media sosial burung biru yang hobi berkicau tersebut.

Berbagai komentar dilayangkan pada sebuah account yang dirasa bertanggung jawab dalam hal ini. Bukan hanya bertanya, tapi keluhan dan tuntutan. Ratapan dilematis yang menuntut keadilan. Macam langit baru runtuh tepat di atas kepalanya saja.

Tuntutannya adalah untuk me-reset semuanya sehingga dapat berperang ulang dari 0 lagi. Mereka merasa dirugikan dengan kesalahan pada sistem sehingga mereka tidak dapat berperang dengan adil. Kursi-kursi yang akan mereka perebutkan telah mulai banyak diduduki oleh golongan yang berhasil. Mereka takut hanya akan tersisa kursi sisa pada kelas yang tidak mereka inginkan. Sekali lagi, alasannya adalah nilai dari sang dosen.

Tuntutan berbuah kepada perselisihan. Selalu ada dua sisi dalam setiap keadaan. Ada yang menuntut diulang, ada yang tidak, dengan dalih itu justru akan merugikan pihak yang sudah berhasil. Bahkan ada kata-kata semacam “mungkin ini memang rezeki kami”. Yah, tidak salah juga sih. Itu kan kebetulan yang menguntungkan mereka. Lalu siapa yang benar? Sama saja. Toh keduanya sama-sama tamak dan tidak ingin rugi.

Perselisihan itu bahkan tampaknya menyebar melalui media sosial lain berwarna hijau yang memiliki stiker-stiker lucu. Bedanya, ini hanya terjadi di dalam grup angkatan saja. Aku tidak tau persisnya bagaimana, tapi nampaknya ini ramai di beberapa angkatan di bawahku (Ya ampun, gw udah angkatan tua!!! Aarrrgghh…).

Memang sih tidak sampai besar, tapi rusuh sesaat ini menandakan bahwa kita mudah sekali ya untuk marah, menangis, dan merajuk ketika disentil sedikit. Yup, disinilah poinnya. Adalah wajar memang ketika kita merasa mengalami ketidak adilan lalu kita berteriak mengadu. Tapi apakah lantas ketika kita berteriak mengadu tersebut semua akan selesai? Yah, mungkin pikiran ini dinilai terlalu apatis, apalagi kalau dihubungkan dengan hal lain. Tapi dalam hal ini, dalam sebuah perang yang hanya memperebutkan kelas ini, tampaknya itu relevan.

Ada cara-cara yang lebih bijak. Misalnya menunggu sambil membuat perjanjian dengan teman-teman untuk saling berkabar jika sudah bisa atau ketika ada informasi lain. Tidak perlu merajuk dan meratapi kuota kelas yang kita inginkan ternyata sudah penuh. Apalagi mengingat semester lalu yang rupanya nama dosen diacak beberapa kali setelah kita sudah memilih kelas tertentu. Karena itulah saya merasa seharusnya kejadian semalam tidak seheboh itu.

Kalau ditanya apa yang saya lakukan, ya memang saya juga mengumpat di grup khusus teman-teman dekat saya yang selalu janjian “perang bersama. Namun setelah puluhan chat lain yang menyayangkan kelas yang penuh, saya lalu mengatakan kepada mereka, “bikin rencana baru yuk, beberapa kelas udah penuh, nih.” Lebih baik bukan? Bahkan kemudian ketika secara mendadak kami dinyatakan sudah bisa masuk, kami langsung memakai rencana baru tersebut. Tak perlu ada kata yang sia-sia.

Sebenarnya saya juga mengamini pendapat yang menyatakan bahwa sistem kami masih banyak kekurangan. Masih banyak yang belum siap dan semua tidak diinformasikan dengan baik. Buktinya saja pemberitahuan bahwa golongan Reguler sudah bisa masuk tidak ada sama sekali. Saya tau karena ada teman saya yang baik dan dermawan yang langsung menyebarkan informasi tersebut kepada kami. Saya yakin dia pun tau karena mencoba lagi atau dari orang lain. Bukan dari sumber resmi. Jadi memang tidak ada informasi apapun tentang kapan kami bisa masuk. Tiba-tiba saja mulai berhamburan pesan berantai yang mengatakan bahwa kami sudah bisa masuk.

Segera setelah semua golongan mendapat haknya – meski tidak jadi diulang – semua pihak langsung diam. Kembali pada kedamaian malam yang sempat terusik oleh kepentingan masing-masing. Rasanya lucu ketika mengingat sore tadi suasana macam kebakaran melanda seluruh dunia, namun malam ini kembali pada keheningan yang syahdu. Manusia, atau mungkin kami orang Indonesia, mudah sekali reaktif terhadap sesuatu ya. Memang sebuah gambaran utuh media sosial masa kini.

Baiklah, saya ingin kembali kepada malam saya yang syahdu. Yang mulai mengatupkan matanya sembari melingkupi dunia dengan keheningan yang damai. Selamat malam!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s