Regol Semester 7

Tak terasa ya, waktu berjalan begitu cepat. Bahkan terasa lebih cepat dari biasanya. Meski memang itu hanyalah sebuah relativitas waktu yang digabungkan dengan abstraknya perasaan. Namun tentu kita tidak dapat begitu saja mengabaikan perasaan kehilangan bukan? Tepatnya kehilangan waktu – meski tidak secara harfiah lenyap – yang berubah menjadi sebuah kenangan, lalu kemudian abadi dalam ingatan. Lalu setelah kita mengubahnya menjadi kenangan, kita mulai membingkainya secara rapi seperti album foto.

Tentu ada banyak peristiwa yang menyenangkan untuk dikenang. Apalagi jika kita melaluinya bersama orang yang kita sayangi seperti keluarga, teman, atau pasangan. Hmm…hm… Tidak melulu peristiwa yang memang menyenangkan, peristiwa yang kurang menyenangkan pun jika dilalui bersama pasti tetap akan menarik untuk dikenang.

Kemarin aku baru saja mengalami suatu peristiwa berulang setiap semester yang pasti akan menjadi kenangan yang lucu. Peristiwa maha penting tiap semester yang akan menentukan perjalanan kuliah selama 6 bulan kedepan. Yup, registrasi akademik online atau biasa disingkat regol. Intinya disini kami diminta untuk memilih mata kuliah apa saja yang akan kami ambil selama satu semester (4 bulan) kedepan. Tapi bukan hanya memilih mata kuliah, melainkan juga memilih kelas untuk setiap mata kuliah tersebut. Sudah bukan hal baru bagi mahasiswa untuk janjian sekelas bersama teman-teman dekatnya. Tak terkecuali aku. Hal itulah yang kemarin aku lakukan bersama teman-temanku.

Karena online, maka kami bisa melakukannya di tempat masing-masing. Lalu untuk melakukan diskusi memilih kelas, kami lakukan di aplikasi chatting whatsapp. Seperti yang sebelum-sebelumnya terjadi, pasti heboh. Puluhan chat silih berganti dan saling tindih dalam sebuah grup. Isinya memaparkan mata kuliah yang diambil dan siapa saja yang mau ikut mengambil (untuk mata kuliah pilihan).

Yang menjadikan hal ini ramai sebenarnya adalah karena ketika masa regol ini, semua mahasiswa berlomba-lomba untuk mengincar kelas tertentu. Yang diprediksi akan diisi oleh dosen yang baik. Beberapa prediksi berhasil, sisanya meleset. Tapi selama masih ada kemungkinan ya pasti akan dilakukan. Lebih lengkapnya lihat saja tulisan ini. Hal itu tak terkecuali bagi aku dan teman-temanku.

Biasanya, menjelang detik-detik pertama regol semua akan heboh. Lalu pada saat sudah bisa regol, grup akan diam sesaat karena butuh waktu sekitar satu menit untuk mengisi Isian Rencana Studi secara online. Setelah selesai maka langsung klik save dan akan muncul hasilnya. Yaitu apakah kita bisa dapat kelas yang kita klik atau tidak. Loh, kan Cuma satu menit? Kok sudah penuh? Ya karena dalam satu menit tersebut ada ratusan mahasiswa yang online dan meng-klik kelas yang sama dengan selisih 1 milisecond.

Lepas satu atau dua menit, maka anggota grup akan langsung mengabarkan hasil mereka. Berhasil atau tidak. Kalau yang tidak hampir semua maka kami akan pindah ke kelas lain bersama-sama. Kalau ternyata kurang dari setengah, formasi kami bagi dua. Hanya yang tidak dapat kelas yang pindah, namun tetap bersama. Kalau hanya 1 orang yang gagal? Pilihannya antara “toleransi” atau “derita lu”. Yah, tapi semua maklum.

Rentang waktunya hanya kurang dari lima menit, namun rasanya detak jantung memacu lima kali lipat dari biasanya. Kira-kira selama satu hari itu dan beberapa hari setelahnya, grup pasti akan rame dan dipenuhi pembahasan hal yang sama: “nama dosennya sudah muncul belum?”

Kali ini aku tidak mau membahas tentang proses itu, tapi pada apa yang lebih abstrak lagi. Ya, soal kenangan. Rasanya saat-saat seperti tadi adalah saat yang paling akan dikenang dari kehidupan kuliahku. Eh, enggak deng. Itu kedua yang paling dikenang. Yang pertama tentu tentang BO Economica tercinta~. Hehehe

Memasuki semester ketujuh, artinya sudah 6 kali aku dan teman-temanku melakukan ini. Artinya kemungkinan besar aku hanya akan melakukan hal ini satu kali lagi. Itupun hanya untuk klik skripsi dan satu mata kuliah lagi. Yang tentunya tidak akan seheboh sekarang atau semester sebelumnya. Padahal rasanya dulu aku sangat kesal dengan Perang Ketamakan ini karena seolah tidak bisa hidup kalau tidak ikut bersaing. Ternyata bikin kangen juga ya. Hihihi

Yah, waktu rupanya terasa berjalan cepat kalau kita mengingat masa lalu. Padahal sejatinya waktu bergerak konstan, senada dengan pergantian siang dan malam serta semilir angin yang berhembus di antaranya. Memang manusia itu pandai sekali ya memberi letupan-letupan emosi pada kesehariannya yang sejatinya bergerak konstan ini. Bahkan untuk hal-hal rutin – tapi penting – seperti regol tadi. Hahaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s