Persimpangan

Kemana kita melangkahkan kaki?

Berjalan di dalam kabut yang pekat

Tak ada yang bisa terlihat

Tapi…aku selalu bertanya

Apakah benar kita berjalan bersama?

Atau hanya berjalan bersisian?

 

Langit tanpa ujung di atas sana

Selalu menjadi metafora cinta yang sempurna

Luas dan tak terbatas

Tetapi langit apa yang menaungi kita?

Terangkah ia? Gelapkah ia?

Atau hanya menurunkan air mata?

 

Karena aku tau kau pun melihatnya

Cahaya yang hilang di lorong yang gelap dan panjang

Tak ada tempat kembali

Kecuali lautan air mata yang akan menenggelamkan kita

Jika begitu, masihkah akan kita lanjutkan perjalanan ini?

 

Mungkin sudah tiba waktunya

Mungkin kita sudah sampai di persimpangan jalan

Untuk membuat pilihan

Akhir dari sebuah perjalanan

Karena mawar yang kupetik pun telah berubah menjadi hitam

Apa yang kini tersisa untuk kita?

Bahkan kenangan kini berubah menjadi serpihan kaca

Yang hanya memberi luka jika aku memungutnya

 

Meski begitu…

Akan kusimpan syair dan serpihan kenangan tentang kita

Meski hanya akan menimbulkan luka

Meski aku akan terbunuh dan mati berulang kali karenanya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s