INTROVERT: Aku

Sebagai permulaan, aku ingin menjelaskan bahwa aku adalah Introvert. Ya, sebuah label yang konon katanya hanya sebesar 25% dari penduduk bumi. Kaum yang dianggap minoritas karena keterbatasannya dalam berekspresi, berkomunikasi, maupun dimengerti oleh orang yang non Introvert. Tapi begitulah aku. Tidak ada yang salah maupun diubah. Hanya mungkin harus beradaptasi di dalam lingkungan minoritas yang memaksa Introvert untuk sedikit terbuka. Memang tidak ada salahnya bersikap ramah, berbasa-basi, maupun terbuka dengan orang lain. Karenanya, Introvert juga tidak harus terus diam karena memang kami juga tidak separah itu. Kami hanya ingin dimengerti. Ajaklah Introvert mengobrol dan ramahlah, maka dia akan terbuka padamu.

Introvert adalah sebuah kata untuk menjelaskan kepribadian seseorang dan merupakan kebalikan dari Ekstrovert. Introvert adalah kepribadaian seseorang yang lebih berorientasi ke dalam. Lebih suka menyendiri, pendiam, dan tidak terlalu menyukai keramaian. Sementara Ekstrovert lebih berorientasi ke luar. Senang mengobrol dan berbicara, outgoing, antusias, suka bersosialisasi dan tidak suka kesendirian.

Istilah Introvert ini dipopulerkan oleh seorang tokoh Ilmu Psikologi yang bernama Carl Gustav Jung. Ia mengelompokan Introvert sebagai kaum minoritas. Menurut beberapa penelitian, persentase orang introvert di dunia hanya sekitar 25-40%. Sisanya tentu orang ekstrovert. Walau begitu, menurutnya peranan mereka dalam kehidupan sosial sangat menonjol. Introvert bukan tidak suka bersosialisasi, hanya lebih nyaman di dalam kelompok yang kecil dan sesekali butuh waktu untuk menyendiri. Introvert cenderung menutup dirinya terutama di dalam lingkungan yang baru. Hal ini lah yang membuat orang ekstrovert lebih mudah diterima di dalam lingkungan yang baru.

ImageHal yang paling aku rasakan dan karenanya aku menganggap diri sebagai introvert adalah karena aku memang lebih suka diam dan mengamati daripada berbicara. Namun tentu jika aku memang harus berbicara, aku akan berbicara. Selain lebih suka diam, aku juga merasa kadang butuh waktu untuk menyendiri. Aku tidak suka keramaian. Dan aku sulit untuk berbasa-basi. Disinilah kesulitan itu muncul. Karena tentu sebuah masyarakat menuntut semua orang di dalamnya untuk bisa mengobrol santai dengan cara berbasa-basi. Bukan hal yang salah. Hanya sulit bagiku. Dan memang bukan sesuatu yang tak dapat diubah. Aku masih mencoba.

Hal itu tentu secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada kehidupan sehari-hariku. Aku bisa bergaul dengan nyaman, bercanda, berbicara banyak hal, tapi hanya kepada orang-orang tertentu. Orang-orang yang aku anggap dekat, dan hanya akulah yang memiliki penilaian dekat atau tidaknya. Kadang aku juga merasa iri kepada teman yang bisa dengan mudahnya bergaul dengan siapa saja bahkan seolah dia kenal dan dikenal oleh seluruh warga kampus. Aku mungkin tidak punya terlalu banyak teman dekat di kampus. Hanya memiliki peer group, teman organisasi, dan beberapa lagi teman yang memang dekat denganku. Tapi aku mencoba mengenal semua orang.

https://i1.wp.com/27.media.tumblr.com/tumblr_m1e6cpFzCq1r8kxpjo1_400.jpg

Suatu ketika, aku pernah mendaftar menjadi seorang mentor mahasiswa baru di fakultas bersama teman SMA ku. Tugas mentor disini adalah membimbing, memberi pengarahan, serta memastikan mahasiswa baru (maba) ikut dalam kegiatan pengenalan fakultas. Mudahnya, mentor nanti yang akan menjadi kakak asuh atau orang pertama yang dekat dan dipercaya oleh maba. Tentu itu butuh kemampuan komunikasi yang baik terutama untuk bisa saling mengenal dan dekat dengan adik-adik mahasiswa baru. Aku menganggapnya sebagai tantangan karena aku ingin membuktikan bahwa meski aku pada dasarnya Introvert, aku juga bisa melakukan tugas itu. Hitung-hitung senang juga dapat keluarga baru, dekat dengan angkatan bawah, dan manfaat lainnya. Awalnya aku percaya diri karena aku punya banyak kenalan di kepantiaan acara itu. tapi rupanya, aku tidak diterima.

Usut punya usut, itu disebabkan beberapa orang tidak percaya aku yang mereka tau adalah seorang Introvert ini dapat menjadi mentor. Parahnya, mereka yang berkata seperti itu bukan orang yang dekat denganku dan bahkan bukan dari divisi mentor. Karena aku yakin, orang-orang yang dekat denganku pasti percaya kalau aku mampu jika aku memang mau. Aku cukup percaya diri untuk masalah disiplin dan integritas sehingga pasti aku dinilai dapat bertanggung jawab. Namun ternyata mereka tetap mempermasalahkan itu.

Jujur saja, awalnya aku sedih karena aku merasa dianggap tidak mampu untuk mengerjakan hal itu. Padahal aku sudah banyak berlatih untuk membuat diriku tidak terlalu terlihat Introvert. Misalnya, di dalam organisasiku, aku sering mengobrol dan mengajak ngobrol angkatan di bawahku. Dan aku bisa nyaman dengan mereka. Mereka pun nyaman denganku. Tentu dapat dirasakan kalau seseorang nyaman ketika mengobrol dengan kita ataupun merasa dekat dengan kita bukan? Tapi ternyata, masih ada yang menganggapku tidak mampu karena sifat Introvert ini.

Hal itu juga aku rasakan dilingkungan keluarga, baik keluarga besar maupun orang tuaku sendiri. Sepertinya semua keluargaku seakan menyangsikan apa aku benar bisa bergaul dengan baik selama sekolah, kuliah, maupun di organisasi. Mereka meragukan itu karena dihadapan mereka aku adalah orang yang diam, bahkan terhadap saudara sepupu sendiri aku tidak bisa mengobrol dengan luwes. Mau bagaimana lagi? Aku merasa tidak dekat dengan mereka.

Pun sama halnya dengan di lingkungan rumahku. Aku tidak memiliki teman dekat. Aku seperti itu karena aku hanya merasa…kadang…seperti terasing. Ditambah lagi, tidak banyak anak yang seumuranku di sekitar rumah. Dan karenanya orang tuaku sering memberi nasehat untuk bisa bergaul dengan lebih luwes. Aku tidak menyalahkan mereka. Mereka tidak salah. Tapi aku juga tidak semudah itu untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Maaf,..kalau selama ini aku belum bisa menjadi orang yang luwes atau pandai dalam bergaul.

Tapi aku sepenuhnya paham, sebagai Introvert aku pasti memiliki cara sendiri dalam menghadapi masalah. Aku hanya perlu mengoptimalkan apa yang menjadi kelebihanku, bukan menyalahi diri dan memaksa diri untuk berubah. Komunikasi dan sosialisasi penting, selama itu tetap terasa nyaman bagi diri sendiri.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s