Sebuah Cerita Tentang “Rumah” Tempatku Berkarya

 

Sudah setahun lamanya aku bergabung dengan sebuah organisasi yang sangat hebat yang bernama Badan Otonom Economica atau yang biasa disingkat BOE. Economica adalah sebuah organisasi pers mahasiswa di Fakultas Ekonomi yang bergerak dalam JURNALISTIK KEILMUAN. Bagiku dan semua orang yang kenal baik dengan BOE, organisasi ini sangat hebat. Mulai dari program kerjanya, pencapaiannya, orang-orangnya, alumninya, sampai sejarahnya tidak akan habis mengundang decak kagum.

Sejak hari kamis sampai minggu pada tanggal 30 Januari – 2 Februari 2014 lalu, aku baru saja ikut dalam sebuah Musyawarah Kerja (muker) yang merupakan pertemuan dan rapat wajib bagi setiap anggota Badan Otonom Economica (Economican: red). Ini adalah rapat besar yang diadakan setiap akhir tahun kepengurusan. Sementara itu ada rapat besar lainnya yang diadakan di pertengahan tahun kepengurusan disebut Rapat Kerja (Raker).

Selama setahun belakangan ini, banyak sekali cerita-cerita dan pengalaman yang luar biasa dari organisasi ini, terutama setiap kali selesai Raker, Muker dan ketika mendengar sejarahnya. Semua cerita dan pengalaman itu selalu memunculkan perasaan bangga sekaligus menggugah motivasi untuk tetap berkarya dan menjadi lebih baik lagi. Sepanjang perjalanannya selama 35 tahun, BOE telah mencetak orang-orang hebat. Mulai dari dosen, akademisi, menteri, direktur bank, Direktur Pelaksana Bank Dunia, bahkan penulis. Namun yang sebenarnya hebat bukanlah Badan Otonom Economica itu, melainkan semangat dan kerja keras orang-orangnya yang selalu terpacu untuk bisa berkarya lebih baik. Itulah yang selalu dikatakan senior-seniorku disini.

Sebagai organisasi jurnalistik keilmuan, BOE memiliki 4 divisi dan 3 biro, yakni divisi Penerbitan, Kajian, Penelitian dan Proyek serta biro Hublu, PSDM, dan Ecomedia. Dari 7 divisi dan biro tersebut, divisi Penerbitan, Kajian, dan Penelitian adalah tiga divisi utama atau biasa disebut Thrisula BOE. Tiga divisi ini membuktikan BOE sebagai juranlistik keilmuan yang bukan hanya mencetak produk jurnalistik tapi juga berkecimpung di dalam dunia diskusi kajian dan penelitian.

Aku sendiri bergabung di dalam divisi penerbitan yang tugasnya adalah menghasilkan produk-produk jurnalistik BOE seperti koran kampus dan majalah. Koran kampus kami bernama Economica Papers atau disingkat EP, sementara majalahnya diberi nama Majalah Economica. EP menguak tentang isu-isu kampus yang sedang hangat, permasalahan sosial dan berita tentang perekonomian (karena kami mahasiswa Fakultas Ekonomi). Sementara majalah memuat berbagai macam rubrik dan bacaan. Meskipun BOE adalah persma fakultas, namun ruang lingkup penyebarannya lebih luas. EP kami sebarkan ke seluruh lingkungan UI sementara Majalah Economica kami sebarkan di dalam dan luar UI bahkan menargetkannya ada di seluruh Indonesia.

Image

Tugas yang kuhadapi selama bergabung di Penerbitan tentunya berkaitan dengan hal-hal berbau jurnalisme seperti mencari referensi berita serta isu yang sedang hangat, mewawancarai narasumber terkait yang kompeten, membuat tulisan terkait hal tersebut dan terakhir, menyebarkannya ke seluruh kampus. Praktis, hal ini selalu membuatku bertemu orang-orang hebat yang menjadi narasumber kami. Wawancara pun bukan hanya menjadi sekedar kewajiban mencari berita tapi sekaligus menjadi ajang bertukar pikiran. Hal ini tentunya menuntutku untuk bisa berpikir dan menulis dengan kritis dan juga netral. Secara pribadi, tugas-tugas itu benar-benar membuatku senang, puas dan bangga.

Selain mengerjakan tugas-tugas dari divisi sendiri, peraturan di BOE mengharuskan setiap staffnya untuk mengikuti minimal satu kegiatan Thrisula BOE. Untuk Divisi Penerbitan dengan cara ikut wawancara atau menulis di Majalah Economica. Untuk Divisi Kajian ikut berpartisipasi dalam diskusi baik internal maupun diskusi public. Untuk Divisi Penelitian yakni ikut minimal satu dari kegiatan penelitian. Karena aku sudah di Divisi Penerbitan, artinya aku hanya perlu mengikuti kegiatan dari Divisi Kajian dan Divisi Penelitian. Kegiatan divisi lain pun ternyata sama hebat dan menyenangkannya dengan kegiatan divisiku.

BOE adalah tempat belajar yang sangat bagus dan tidak boleh disia-siakan. Selama di BOE, aku sadar bahwa benar ini adalah organisasi yang hebat, namun itu juga tak lepas dari kegigihan orang-orangnya. BOE hebat karena orang-orangnya selalu bekerja keras kapanpun, termasuk saat ada di Economica. Karena kerja keras itulah semua hasil karya dari BOE menjadi sangat hebat sekarang ini.

Aku sendiri selalu kagum dengan pemikiran dan tulisan di setiap produk jurnalistiknya (ini juga alasan aku masuk divisi penerbitan). Semua pemikiran yang tertuang disana menurutku luar biasa. Bukan hanya membahas isu-isu yang biasa namun juga membahas hal-hal yang tidak biasa dari sudut pandang yang berbeda. Pemikiran-pemikiran yang liar dan tidak memihak. Juga tulisan-tulisan yang memang didesain untuk bisa membuat betah membacanya. Bahkan sampai sekarang, aku masih merasa tulisanku belum berkembang sampai sejauh itu. Tapi itu juga yang memacuku untuk terus latihan.

Meskipun disini aku selalu membicarakan kehebatan BOE, sebenarnya kami juga tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Masih ada hal-hal yang sebenarnya kurang berhasil dijalankan BOE. Masih ada hal-hal yang masih harus diperbaiki, bahkan tak terkecuali masalah internalnya. Namun itu semua bukanlah kekurangan. Itu semua adalah pemicu agar BOE tetap berkembang kea rah yang lebih baik.

Semua organisasi itu hebat, bukan hanya BOE meskipun sekarang aku memang sedang membicarakan BOE sebagai organisasiku. Karena semua organisasi pasti secara langsung maupun tidak langsung, tersirat maupun tersurat, memiliki kesamaan misi yakni mengembangkan kemampuan para anggotanya. Untuk alasan inilah kita (seharusnya) bergabung ke dalam sebuah organisasi. Untuk mengembangkan diri. Bukan hanya untuk ikut-ikutan apalagi hanya ingin memenuhi CV. Inilah alasan mengapa kita harus memilih organisasi atau kegiatan yang memang kita sukai atau kita inginkan. Supaya dunia yang kita tau tidak hanya sebatas kamar kost, buku dan kelas saja (bagi mahasiswa). Supaya kita tau dunia yang sebenarnya. Supaya kita dapat mengembangkan diri dan soft skill kita.

Karena itu, sebaiknya kita memilih sebuah wadah yang cocok bagi kita untuk mengembangkan apapun potensi kita. Jika kita sudah tau apa potensi, hobi, atau passion kita, maka carilah wadah yang sesuai. Jika belum, maka carilah dan coba apa yang kita anggap cocok untuk kita. Jangan mengisi kegiatan di waktu muda hanya dengan kekosongan belaka. Jangan pula hanya tenggelam di dalam buku-buku pelajaran dan kelas. Ada dunia yang lebih besar di hadapan kalian menunggu untuk di eksplorasi. Ada kesempatan yang lebih menjanjikan daripada sekedar angka yang tertulis di lembaran kertas. Terakhir, organisasi itu hanya menyediakan makanan, kita sendirilah yang harus mengambilnya, jangan menunggu untuk disuapin.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s