Memarahi Dengan Cara Mendoakan

Pernahkah kita berpikir akan menjadi sosok orang tua yang bagaimana nanti terhadap anak-anak kita? Dan juga, akan seperti apa cara kita ketika memarahi anak-anak?

https://i1.wp.com/www.anakku.net/wp-content/uploads/2013/06/Trauma-dimarahi.png

Bagaimana sebaiknya cara “memarahi” anak yang nakal? Kira-kira mungkin itulah dasar tulisan kali ini. Tulisan ini sebenarnya merupakan buah pemikiran saya setelah mendengarkan ceramah saat Sholat Tarawih di masjid pada Ramadhan kemarin. Cerita yang disampaikan adalah tentang seorang anak kecil yang dimarahi ibunya. Namun rupanya marah ibunya itu menjadi doa yang sangat bagus untuk si anak di masa depannya.

Dikisahkan adalah seorang anak kecil yang senang bermain dengan tanah (atau pasir, dalam cerita lain disebutkan ia bermain dengan debu). Pernah suatu ketika ayahnya mengadakan sebuah jamuan makan dan ibunya sedang menyiapkan makanan. Saat itu makanan telah siap namun undangan belum ada yang datang. Anak kecil itu mengenggam tanah/pasir di kedua tangannya lalu dengan iseng menumpahkannya di atas makanan yang dihidangkan. Sontak ibunya langsung marah dan berkata, “idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain (Pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Masjidil Haram…!)” Namun rupanya, Tuhan mengabulkan doa Ibunya. Sekarang, anak kecil itu telah menjadi seorang Imam di Masjdil Haram dan dikenal dengan nama Syeikh Abdurrahman as-Sudais.

Kisah di atas memberikan pesan kepada para orang tua untuk tetap bertutur kata yang baik meski sedang dalam keadaan marah kepada anak. Dari cerita di atas dapat juga disimpulkan bahwa akan lebih baik kalau orang tua memarahi anaknya dengan kata-kata dan doa yang baik, namun tetap tegas kepada anak. Bukan justru dengan memaki-maki sang anak dan mendoakan yang tidak baik dihadapannya.

Sudah merupakan hal yang bisa bahwa setiap anak kecil pasti memiliki kenakalannya masing-masing. Kadang kala kenakalan mereka ini memang bisa membuat orang tua marah. Padahal mungkin saja mereka melakukan hal itu karena tidak tau, hanya sebagai candaan, atau justru minta perhatian.

Tetapi justru lebih banyak kita lihat dan dengar di lingkungan kita orang tua yang memarahi anaknya dengan menjelek-jelekkan anak itu atau dengan cara yang tidak baik. Padahal, cara seperti itu hanya akan membuat anak  menangis atau bahkan makin membangkang.

Padahal, seharusnya dengan cerita ini para orang tua mau mengubah mindset mereka dalam memarahi anak. Memarahi dengan cara menjelekkan si anak juga berdampak pada sisi psikologisnya. Apalagi jika kita berkata “kamu ini nakal banget”, “dasar bodoh kamu”, atau sebagainya. Memarahi anak dengan kata-kata ini juga disebut kekerasan verbal. Menurut psikolog Rudangta Arianti Sembiring S.Psi, kekerasan verbal terhadap anak akan menumbuhkan sakit hati hingga membuat mereka berpikir seperti yang kerap diucapkan oleh orangtuanya. Jika orangtua bilang anak bodoh atau jelek, maka dia akan menganggap dirinya demikian.

Karena itulah, satu hal yang harus digaris bawahi disini adalah orang tua sebaiknya menghindari mengeluarkan kata-kata yang tidak baik terhadap si anak ketika memarahinya. Seperti memakinya dengan kasar atau menjelek-jelekkannya. Berkatalah yang baik namun tegas. Jangan sampai kata-kata itu justru menjadi doa dan lalu Tuhan mengabulkan doa itu.

Selain itu, dari cerita ini juga perlu diambil pelajaran orang tua sebaiknya terus menerus mendoakan hal-hal yang baik kepada anaknya. Kemudian anak juga sebaiknya dan yang memang paling baik adalah minta didoakan oleh orang tua. Doa orang tua kepada anak lebih manjur, itu dasar keyakinannya. Lebih baik meminta doa kepada orang tua sendiri daripada minta didoakan teman apalagi melalui social media.

Sebagai mahasiswa yang belum berkeluarga, mungkin saya belum cukup pantas untuk menjelaskan hal-hal di atas. Namun disini, saya hanya ingin berbagi pemikiran saya melalui tulisan ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

 

Sumber:

http://desiemeilana.wordpress.com/2013/04/25/kisah-ibunda-syaikh-abdurrahman-as-sudais/

http://lifestyle.okezone.com/read/2008/03/15/196/91965/dampak-kekerasan-verbal-terhadap-anak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s