Siapa Teman Kita yang Sebenarnya?

Mencari orang yang mau dekat dengan kita itu mudah, tapi mencari teman sejati yang peduli dengan kita, itu tidak mudah. Mungkin benar adanya, teman sejati baru bisa didapatkan setelah melalui perjalanan panjang dalam kehidupan ini.

https://i2.wp.com/pedemunegeri.com/uploads/photo/resize3/rindu_1323066072_makna_sahabat_sejati-300x251.jpg

Semua bermula dari sebuah chating dengan beberapa orang teman SMA di Facebook chat group pada malam sampai dini hari tanggal 5 – 6 Agustus 2013. Obrolan yang tidak jelas itu tiba-tiba menjadi sesi curhat dari dua orang di antara kami yang memiliki masalah utama yang sama. Tentang “teman”. Dan jujur saja, saya sedih membaca cerita mereka.

Mereka, dua orang teman saya itu memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan yang ada hubungannya dengan pertemanan mereka. Yang satu mendapat respons negatif dari teman-teman angkatannya karena cara berteman dia yang mereka pikir agak aneh. Dan satu lagi merasa tidak menemui teman yang benar-benar menjadi teman bagi dirinya. Bukan hanya teman yang datang di saat butuh saja.

1)  Isu yang tidak benar itu menyakitkan dan dapat memutus pertemanan

Isu, gossip, fitnah, atau apapun bentuknya yang memiliki makna menjelekkan atau membicarakan orang lain yang belum diketahui benar atau tidaknya adalah sesuatu yang sangat buruk. Padahal isu itu bisa saja karena salah paham. Yang terburuk adalah kalau isu itu sudah tersebar ke seantero lingkungan pergaulan kita. Hasilnya sudah tentu, dikucilkan dari pergaulan, dianggap aneh, dan sebagainya. Pastinya kita tidak mau dibicarakan untuk sesuatu yang tidak benar, bukan?

Pada kasus teman saya ini salah paham terjadi karena kebiasaan teman saya yang dianggap berbeda dari mereka. Dan parahnya, hal ini bahkan sampai melibatkan banyak pihak. Selain itu, meski sudah diberi penjelasan yang sebenarnya, orang yang termakan isu kerap kali sulit untuk mengubar pikiran mereka lagi. Apalagi jika yang menjauhi dan terjebak dalam salah paham itu adalah sekelompok teman yang sejak awal dekat dengan kita dan mengeri dengan baik siapa diri kita sebenarnya. Pertanyaannya, kenapa justru seorang teman yang sudah kenal baik dan dekat dengan kita yang sekarang tidak mempercayai kita? Bukankah seharusnya mereka menjadi orang pertama yang yakin bahwa isu itu tidak benar dan tetap membela kita?

2)   Teman yang hanya datang saat ada keperluan

Kasus berbeda dialami oleh teman saya yang lain. Sebenarnya mungkin jika dilihat ini hanya masalah persaingan biasa. Tapi ternyata berujung ke sesuatu yang tidak sehat. Bagaimana rasanya ketika awalnya kita memiliki teman tapi ternyata teman kita ingin untuk mengalahkan kita, membayang-bayangi kita bahkan mengatakan langsung bahwa dia kesal karena tetap tak bisa mengalahkan kita. Tentu tidak masalah kalau ini adalah persaingan positif. Nyatanya? Meski tidak sampai negative yang parah tapi bagi teman saya itu cukup menjengkelkan. Belum lagi teman-teman dari teman saya itu lebih memihak kepada orang yang membayang-bayangi teman saya.

Selain itu, menurut teman saya agak sulit survive disana karena kecenderungan orang-orangnya yang ingin dianggap, baik dari segi akademis ataupun sebagai aktivis. Mungkin ini agak subjektif, tapi saya tau persisi teman saya seperti apa. Jadi disini saya bisa nilai bahwa lingkungan itu mungkin agak berat baginya. Bahkan katanya dia kesal dengan orang-orang yang hanya menyapa kalau ada urusan akademis. Yah, bisa dibilang teman saya ini memang sangat pintar dalam bidangnya tersebut. Teman saya itu sampai bilang, dia belum bisa menemukan teman yang benar-benar menganggap dia teman disana.

Kokoro Connect

Saya mencoba untuk berpikir kritis dan berpihak netral, kadang kala kita tidak bisa menilai dari satu sudut pandang saja. Kalau dipikir lebih jauh lagi, untuk teman saya yang pertama, mungkin kebiasaan dia itu merupakan kebiasaan yang kurang baik – walau tidak merugikan. Tapi itu memang sudah sejak SMA dan saya serta semua teman SMA saya tidak ada yang menganggap itu aneh. Karena itu teman saya ini beralasan mungkin disana kulturnya beda.

Tapi memang, dalam lingkup sosial yang lebih besar kita juga harus membiasakan diri terhadap anggapan-anggapan orang lain yang berbeda-beda. Bisa saja menurut kita tidak masalah tapi dimata orang lain itu masalah. Selain itu, yang utama dari kasus dia sebenarnya adalah karena ada isu miring yang beredar. Hanya itu.

Kemudian untuk teman saya yang kedua, mungkin menurut pemikiran saya ini adalah ujian baginya karena kelebihannya itu. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa di dalam hidup bermasyarakat ini, banyak orang yang hanya mendekat karena kelebihan kita, dan banyak juga orang yang selalu ingin membayang-bayangi atau bahkan mengalahkan kita. Jadi, mungkin ini adalah gambaran yang bagus baginya agar bisa lebih siap menghadapi dunia luar. Dan mungkin justru dengan inilah, dia bisa menilai dan memilih teman yang benar-benar peduli kepadanya.

Sebagai bagian dari hidup bermasyarakat, sebagai makhluk sosial, dan juga sebagai manusia, kita memang harus mencari teman. Dan sebaik-baik teman adalah yang bisa mengajak kita ke jalan yang benar, ada di saat senang dan susah, dapat diandalkan, dan percaya penuh kepada kita. Semoga kita semua bisa mendapatkan teman sejati dalam hidup ini. Aaamiiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s