Tidak ada Ucapan Hari Ini

Tidak ada ucapan hari ini
Daun yang tumbuh lalu gugur
Kuncup yang mekar dan layu
Purnama yang datang dan berlalu
Tapi masih saja kita memberi nama pada tanggal dan waktu
Menandai hari dan menghitung tahun

Tidak ada ucapan hari ini
Lilin yang telah padam ditiup
Kue yang habis dibagikan
Riuh rendah yang mulai pulang
Lalu kita kembali tak diperhatikan
Untuk apa?

Setelah perayaan usai dan semua orang telah pergi
Di suatu tempat sana, ada yang masih mengirimkan doa
Meskipun entah dimana dan sedang apa dia di sana
Sejak waktu tak lagi beririsan bagi keduanya
Karena meski cerita itu telah ia balik halamannya
Masih akan ada kertas-kertas kecil diselipkan diantaranya

Jika malam terlalu dingin dan sepi
Ketika gerimis turun di dalam kamarmu
Tersenyumlah
Mungkin membayangkan keindahan di masa depan
Atau mengingat kenangan-kenangan lampau
Semakin dewasa kita, semoga semakin bersyukur
Untuk apa-apa saja yang telah dilalui dan dimiliki
Hari esok adalah misteri yang indah
Jangan lupa untuk tetap berusaha bahagia

Pesan-pesan yang dikirim angin
Juga hujan tanpa rima darimu
Semoga masih akan tetap terjaga
Pesan-pesan yang saling bertukar makna
Juga diksi yang semakin jarang terlihat
Semoga masih terus kita bagikan

Advertisements

Pada Waktu Bahagia

Pada saat kita bersama-sama
Berkumpul di bawah pohon besar di sebelah bangunan hijau
Atau di dalam ruang kelas di sudut lantai tiga
Adalah waktu yang mana
Tidak akan bisa kita temukan lagi di masa depan
Saling bercerita tentang entah apa yang sebenarnya diceritakan
Saling mendengarkan lagu yang kita suka, entah bagaimana menyanyikannya
Saling tertawa, entah karena apa, mungkin kita hanya sedang bergembira
Kita menghabiskan waktu bersama
Dengan kegiatan yang entah apa
Yang pasti adalah ketika itu,
Kita bahagia

Prasangka

Kita bisa mengembalikan semuanya seperti semula
Kecuali jarak dan apa yang tersembunyi pada malam
Cerita-cerita yang tak lagi sampai pada telinga
Kata-kata yang tak lagi tersampaikan sempurna
Lembaran-lembaran pesan singkat yang tak lagi bersuara
Diriku bukan lagi pendengar setiap kisahmu
Pada malam dimana aku diminta untuk melupakan apa yang kau katakan barusan
Adalah malam penuh prasangka yang berkepanjangan
*
Memangnya kau siapa perlu tau kabarku?

Jika Dirimu Terbangun

Jika malam sudah turun pada jalan-jalan yang sepi
Tapi masih tidak kau temui aku di sampingmu
Kau sudah tau mengapa
Lafalkan saja namaku dalam tengadahmu
Lalu kirimkan bersama secarik diksi tulisanmu kepadaku
Yang dirajut oleh benang-benang kisah cinta kita
Supaya ia menjelma segelas kopi panas yang menemani malamku

Jika malam sudah turun pada lampu-lampu yang mulai mati
Tapi masih belum kujumpai wajahmu yang pulas tertidur
Kita sudah tau mengapa
Percayalah, ku lafalkan namamu dalam tiap ketuk laptop
Lalu ketika secarik diksi tulisanmu sampai di layar ponselku
Akan kuaduk mereka ke dalam cangkir kopi panas itu
Hingga dirimu menjelma kehangatan yang menyelimuti malamku

Kupu-Kupu

Dirimu adalah mawar yang memikat perangkap
Wewangian yang melebur akal dan perasaan
Biar kudekat masuk ke dalamnya
Meski mungkin nanti aku akan menyesal

Aku hanyalah serangga yang terbang melintas
Terjerat masuk ke dalam perangkap
Terpikat oleh tutur dan laku lembut itu
Ini bukan salahmu, aku  bertaruh dengan diriku
Meski ku tau semua akan terlupakan begitu saja

Aku hanyalah serangga yang melintas di jaring laba-laba
Namun dirimu juga tetap saja tidak memilihku